Sedikit Cerita dari Global Leadership Academy di Bangkok

Tiga hari di Bangkok ternyata gak kerasa seperti program leadership pada umumnya. Awalnya saya membayangkan Global Leadership Academy (GLA) dari AVPN bakal dipenuhi presentasi, framework, dan sesi networking formal yang padat dari pagi sampai malam. Tapi ternyata suasananya jauh lebih cair daripada yang saya bayangkan.

Alih-alih dijejali materi terus-menerus, kami justru diajak mengalami berbagai bentuk percakapan dan pembelajaran yang muncul dari interaksi antarpeserta. Dan somehow, justru pendekatan kayak gitu yang bikin pengalaman ini terasa lebih membekas.

Yang paling menarik bagi saya, selama tiga hari program berjalan hampir gak ada presentasi formal dari tim AVPN sendiri, eh justru gak ada sama sekai deh. Bahkan fasilitator utamanya hanya satu orang, yakni Kurt Peleman. Selebihnya, ruang benar-benar dibentuk oleh energi kelompok, percakapan yang muncul secara natural, dan bagaimana setiap orang membawa perspektifnya masing-masing ke dalam ruangan.


Embracing the Unknown Sejak Hari Pertama

Sebelum program benar-benar dimulai, Kurt sempat bilang kalau selama beberapa hari ke depan kami akan banyak berhadapan dengan uncertainty. Katanya, sebagian proses di GLA memang sengaja dibuat agar peserta gak selalu tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Waktu itu saya masih menganggapnya sebagai semacam opening statement biasa.

Tapi ternyata, konsep itu benar-benar diterapkan sepanjang acara, wihihiw.

Sering sekali kami gak tahu habis ini bakal ada sesi apa, output akhirnya seperti apa, atau kenapa sebuah aktivitas dilakukan. Bahkan kadang transisinya terasa terlalu organik sampai saya kepikiran, “Setelah ini sebenernya lagi mau diarahin ke mana ya?”

Tbh, di awal saya cukup anxious.

Karena sebagai orang yang terbiasa bekerja dengan agenda, struktur, dan timeline yang jelas, situasi kayak gitu cukup bikin gak nyaman. Rasanya seperti terus berjalan tanpa peta dan arah yang utuh. Tapi makin lama saya mulai tersadar kalau justru itu pengalaman yang ingin diberikan oleh GLA, yaitu hidup di tengah ketidakpastian tanpa harus buru-buru mengontrol semuanya.

Kadang manusia terlalu sibuk mencari kepastian sampai lupa memberi ruang bagi kemungkinan baru untuk muncul.

Menariknya, Kurt gak langsung menjelaskan semua maksud di balik metode yang dipakai selama program berlangsung. Jadi sepanjang proses, kami benar-benar dibiarkan mengalami dulu rasa bingungnya, awkward-nya, bahkan rasa penasarannya.

Baru di akhir acara, satu per satu benang merahnya mulai dijelaskan. Dan di situ banyak peserta langsung punya reaksi yang sama:

“Ohhh… jadi maksudnya itu.”

Ada semacam rasa clarity sekaligus re-energized setelah akhirnya memahami kenapa ruangnya dibuat seperti itu sejak awal. Karena ternyata, banyak metode yang dipakai memang sengaja dirancang untuk membuat peserta mengalami uncertainty secara langsung, alih-alih hanya mendiskusikannya secara teori.

Ketika Cerita Personal Mengubah Suasana Ruangan

Salah satu sesi pertama yang paling membekas buat saya adalah Tree of Life. Salah seorang membuka sesi dengan cerita yang sangat personal tentang pengalaman cinta pertamanya di Thailand. Dari first kiss sampai rasa kehilangan, semuanya diceritakan dengan sangat manusiawi dan gak dibuat-buat. Menariknya, justru karena itu suasana ruangan langsung berubah.

Orang-orang mulai lebih terbuka, percakapan jadi terasa lebih genuine, dan defense perlahan turun. Dari situ saya makin tersadar kalau trust sering kali muncul karena ada keberanian untuk hadir sebagai manusia biasa, dibanding seseorang yang terlihat paling profesional atau paling pintar

Pengalaman itu bikin saya refleksi cukup jauh tentang banyak ruang kolaborasi yang pernah saya temui. Gak jarang ya, kita terlalu cepat masuk ke strategi, target, dan output tanpa benar-benar membangun rasa aman terlebih dahulu. Padahal, kalau manusianya belum merasa cukup nyaman untuk hadir secara utuh, percakapan yang muncul biasanya hanya berhenti di permukaan.

Banyak ruang kolaborasi gagal berkembang bukan karena kurang ide, tapi karena manusianya belum benar-benar merasa aman.

Belajar Mendengar Tanpa Sibuk Menjawab

Perasaan itu makin terasa waktu masuk ke sesi generous listening. Di sesi ini kami diajak untuk benar-benar mendengar tanpa sibuk menyiapkan jawaban. Dan ternyata itu jauh lebih susah daripada kelihatannya.

Saya baru sadar kalau selama ini sebagian besar orang mendengarkan sambil berpikir tentang apa yang akan mereka katakan berikutnya. Akibatnya, banyak percakapan rasanya kayak cepat, penuh respon, tapi sebenarnya minim kehadiran. Sementara di sesi ini, justru ada banyak jeda, silence, dan ruang kosong yang awalnya terasa agak awkward.

Tapi makin lama, silence itu justru terasa menenangkan. Orang-orang mulai berbicara lebih jujur dan reflektif. Bahkan beberapa cerita yang muncul terasa seperti sesuatu yang selama ini mereka tahan sendiri.

Saya jadi sadar kalau silence itu tanda bahwa seseorang sedang merasa cukup aman untuk benar-benar berpikir dan didengar.

Dunia hari ini terlalu cepat bereaksi. Mungkin itu kenapa banyak orang lupa rasanya benar-benar didengar.

Tentang Power, Perspektif, dan Siapa yang Punya Ruang Bicara

Refleksi tentang ruang dan perspektif itu berlanjut di sesi Deep Democracy. Kami banyak membahas tentang power dynamics dan bagaimana suara tertentu sering kali lebih dominan dibanding yang lain, bahkan di ruang yang katanya kolaboratif sekalipun.

Contohnya ketika organisasi besar, donor besar, atau pemain global secara gak sadar mengambil terlalu banyak ruang dalam percakapan, sementara suara lokal perlahan tersisih. Diskusi itu cukup mengganggu pikiran saya karena saya mulai bertanya ke diri sendiri soal apakah selama ini saya juga pernah tanpa sadar melakukan hal yang sama dalam ruang-ruang yang saya fasilitasi?

Bukan karena niat buruk, terkadang dominasi itu bisa jadi muncuk karena posisi, bahasa, atau siapa yang paling nyaman bicara lebih dulu.

Pembelajaran dari saya ialah ternyata menciptakan ruang yang benar-benar inklusif ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar memberi kesempatan bicara.

Percakapan Tentang Kelelahan Para Leaders

Hal itu juga terasa kuat di sesi Open Space Technology, di mana peserta bebas membawa topik yang mereka rasa penting. Saya mengangkat tema tentang well-being dan resilience para leaders, dan ternyata resonansinya besar banget, hehehe.

Banyak peserta cerita tentang rasa capek yang sulit dijelaskan, rasa lonely di posisi leadership, sampai tekanan untuk selalu terlihat kuat di depan tim atau organisasinya. Yang menarik, sebagian besar dari mereka sebenarnya tidak mencari solusi besar. Melainkan hanya ingin punya ruang untuk bernapas sebentar dan bicara dengan orang lain yang benar-benar paham rasanya.

Beberapa peserta cerita kalau mereka mencoba menjaga dirinya lewat hal-hal sederhana seperti yoga, dancing, olahraga, atau sekadar ngobrol dengan peer yang setara. Dan dari semua percakapan itu, ada satu hal yang paling membekas buat saya, yakni banyak founders dan leaders terlalu sibuk menjaga organisasinya sampai lupa menjaga dirinya sendiri.

Banyak orang ingin memperbaiki dunia, tapi tubuh dan pikirannya sendiri belum sempat benar-benar bernapas.

Percakapan Tentang Kelelahan Para Leaders

Semakin lama mengikuti GLA, saya makin merasa kalau program ini sebenarnya bukan tentang menjadi leader yang selalu punya jawaban. Justru sebaliknya, kami terus diajak hidup di tengah ketidakjelasan dan belajar tetap hadir di dalamnya.

Ketika bekerja dengan manusia dan berbagai kompleksitas di dalamnya, selalu ada variabel yang gak bisa kita kontrol. Dan mungkin di situlah pentingnya reflective thinking. Jauh daripada sekadar memastikan semuanya sempurna, melainkan untuk membantu kita tetap sadar, adaptif, dan terbuka terhadap perspektif baru.

Kalau saya harus merangkum satu hal paling besar dari pengalaman ini, mungkin jawabannya sederhana, yaitu leadership adalah tentang membuat ruang. Ruang untuk mendengar, berpikir perlahan, dan ruang untuk gak harus selalu terlihat kuat. Juga ruang untuk hadir sebagai manusia utuh di tengah dunia yang terus bergerak cepat.

Pulang dari Bangkok, saya jadi makin yakin kalau kerja-kerja yang sedang dibangun BLESS (tempat saya bekerja perhari ini) memang sangat dibutuhkan hari ini. Mungkin dunia sekarang gak kekurangan orang pintar. Tapi dunia mulai kekurangan ruang yang membuat manusia bisa bernapas sedikit lebih pelan.