Reflection

Learning to Embrace the Unknown in an Uncertain World

Kita Hidup di Dunia yang Bergerak Terlalu Cepat

Beberapa bulan terakhir rasanya dunia makin susah ditebak. Tiba-tiba rupiah melemah sampai menyentuh kisaran Rp17.400 per dolar AS pada awal Mei 2026. Bloomberg Technoz mencatat rupiah sempat berada di level Rp17.420 per dolar AS pada 5 Mei 2026, salah satu titik terlemah sepanjang sejarah perdagangan rupiah modern. Di saat yang hampir bersamaan, ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas. Iran sempat mengancam menutup Selat Hormuz setelah eskalasi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel meningkat. Padahal sekitar 20 persen distribusi minyak dunia melewati jalur tersebut menurut U.S (Energy Information Administration, 2024). Efek dominonya langsung terasa ke harga energi, inflasi, pasar finansial, sampe rasa aman banyak orang di kehidupan sehari-hari.

Yang bikin menarik, di tengah kondisi seperti itu sebagian besar dari kita tetap menjalani hidup seolah semuanya masih bisa diprediksi, wkwk. Pagi masih bisa meeting, siangnya revisi deck, sore ngejar deadline, malam doomscrolling sambil ngarep minggu depan sedikit lebih tenang.

Jujur aje, uncertainty sekarang kayaknya udah berubah jadi atmosfer hidup sehari-hari. Saya sendiri sering dikit-dikit “hahh”, “whatt?!”, “bjir”, “astaghfirullah..”, “fiuuuh”, wkwk.

Dan somehow, kita, manusia tetap diminta untuk bisa stabil, produktif, hadir terus tanpa absen, bahkan karena keadaan terpaksa harus tetap merasa optimis.

“Kadang yang paling melelahkan dari dunia hari ini ialah perasaan harus selalu siap menghadapi semuanya.”

Sebagai bagian dari tim program di BLESS Indonesia, saya mulai merasa bahwa situasi seperti ini penting bgt sih untuk dibahas, terutama dari sisi yang sering kelewat, yakni soal rest. Selama ini rest sering dipahami sebagai jeda setelah lelah, padahal menurut saya rest jauh lebih dalam daripada itu.

Rest adalah kemampuan tubuh dan pikiran untuk kembali punya ruang bernapas di tengah dunia yang terus bergerak. Di titik tertentu, manusia pastinya gak cuma capek secara fisik aja. Banyak yang sebenarnya lelah karena terlalu lama berada dalam mode siaga.


Otak Manusia Memang Suka Kepastian

Kalau dipikir-pikir, wajar kalau manusia gampang cemas saat banyak hal terasa gak pasti. Otak kita memang dirancang untuk mencari pola dan prediksi.

Dalam neuroscience, konsep predictive processing menjelaskan bahwa otak terus mencoba memperkirakan apa yang akan terjadi supaya tubuh bisa menghemat energi dan mengurangi ancaman. Karl Friston, neuroscientist dari University College London lewat teorinya “Free Energy Principle” tahun 2010 menjelaskan bahwa otak bekerja seperti prediction machine yang terus berusaha meminimalkan uncertainty.

Mangkanya gak heran, kalau ketika situasi terlalu terbuka atau samar, tubuh langsung bereaksi. Saya pun sering merasakan hal ini. Kita jadi pengen semua rundown jelas, pengen tau langkah berikutnya apa, pengen mastiin semuanya aman. Saya melihat pola itu juga muncul ketika kami mulai merancang retreat BLESS kemarin.

Konsep retreat ini sejak awal memang cukup berbeda. Kami memang pengennya bikin ruang yang agak pelan, reflektif, dan memberi kesempatan peserta untuk berhenti sejenak dari ritme yang terlalu cepat. Di saat yang sama, salah satu pendekatan yang kami pegang adalah embracing the unknown, jadi rundown sengaja dibuat agak longgar, beberapa aktivitas dibiarkan terbuka (free time), dan peserta gak selalu tahu habis ini bakal ada sesi apa.

Fyi, pendekatan embracing the unknown sebenarnya banyak saya pelajari saat mengikuti Global Leadership Academy (GLA) bersama AVPN di Bangkok [click] beberapa waktu lalu.

Jujyuuurrr, awalnya ada sedikit rasa cemas, hehe. Takut peserta jadi anxious karena ruangnya terasa terlalu abstrak, dan peserta malah sulit rest karena gak tahu apa yang akan terjadi.

Beberapa facilitator di acara yang serupa, seringkali punya kecenderungan over-explain. Saya pun beberapa kali hampir jatuh ke situ. Rasanya pengen memastikan para peserta ngerti semuanya, ngasih instruksi sebanyak mungkin, dan mastiin gak ada awkward silence.

Padahal setelah dijalani.. saya makin tersadar bahwa terlalu banyak penjelasan kadang justru membuat orang tetap berada di mode berpikir terus-menerus.

Tubuhnya hadir penuh di ruangan, tapi pikirannya masih bekerja kemana-mana. Tubuh di tempat retreat, otak di jabodetabek, wkwk.

Manusia gak selalu butuh semua hal jadi jelas.
Yang penting mereka masih merasa aman.

Rest Tetap Membutuhkan Anchor

Selama retreat berlangsung, kami menjaga beberapa hal dasar supaya tubuh peserta tetap merasa aman.

Mereka mungkin gak selalu tahu detail aktivitas berikutnya, tapi mereka tahu makanan tersedia tepat waktu, tempat tidurnya nyaman aman tentram, ritmenya pelan (walaupun saya sadar ada beberapa yg agak diburu-buru karena ngejar waktu), dan tim facilitatornya juga pandai menjaga ruang.

Mereka juga tahu bahwa mereka boleh diam, keluar masuk ruang, dan mengambil waktu sendiri tanpa pressure untuk selalu aktif.

Dan somehow… it works, yeay!

Hari pertama retreat saya melihat banyak peserta yang masih terasa cukup tegang. Beberapa datang dengan energi yang masih sibuk. Sebagian, ada yang gak bisa ninggalin laptop, ada juga yang keliatan pikirannya tertinggal di pekerjaan.

Menurut laporan World Health Organization tahun 2019, burnout masuk ke klasifikasi occupational phenomenon akibat stres kronis yang gagal dikelola dengan baik. Kalau dipikir-pikir, jadi gak heran tuh banyak orang datang ke ruang kayak retreat sambil membawa tubuh yang sebenarnya sudah capek duluan.

Yang menarik justru mulai muncul di hari kedua. Saya melihat ritme ruang perlahan agak berubah. Percakapan sudah mulai lebih cair, orang-orang mulai duduk datang ke sesi tanpa buru-buru, dan energi yang awalnya terasa tegang, di hari ini rasanya mulai melunak.

Saya melihat ada peserta yang bilang ternyata mereka baru sadar sudah lama sekali gak benar-benar istirahat.

Terdapat juga peserta yang akhirnya tidur siang tanpa rasa bersalah. Sampai ada yang mulai membuka cerita tentang hidupnya, yang biasanya ngomongin pekerjaan. Saya merasakan hal-hal ini terutama saat peserta ngobrol di luar sesi, seperti saat makan, maupun ikut aktivitas bersama.

Kemudian, connection antar peserta juga tumbuh secara natural, bukan lewat networking yang dipaksa atau sesi ice breaking berlebihan. Saat ritmenya diajak lebih pelan, kemungkinan besar orang mulai merasa cukup aman untuk hadir di ruangan sebagai dirinya sendiri.

Menurut saya, banyak ruang perubahan hari ini terasa melelahkan karena semuanya bergerak terlalu cepat. 

Semua orang ingin memperbaiki dunia tapi tubuhnya sendiri belum sempat bernapas.

Belajar dan Mengamati sebagai Fasilitator

Buat saya pribadi, retreat ini juga jadi ruang belajar yang besar sebagai facilitator.

Salah satu hal paling challenging bagi saya ternyata adalah belajar diam. Facilitator sering merasa harus selalu mengisi ruang, selalu membantu, dan memastikan semuanya berjalan “baik”. Padahal beberapa momen paling hangat selama retreat justru muncul ketika ruangnya cukup tenang dan aman.

Sejauh pengamatan saya, percakapan yang jujur dan terbuka banyak keluar saat minum teh/kopi di sore hari, refleksi pribadi pun banyak muncul saat jalan-jalan santai, sampai ada orang yang akhirnya bisa menangis setelah lama menahan banyak hal.

Menariknya, kebanyakan percapakan-percakapan itu muncul saat tidak dipandu terlalu kaku di sesi, melainkan karena ritmenya cukup aman untuk membuat tubuhnya perlahan melepas pertahanannya, asek.

Silence kadang terasa awkward karena kita terlalu terbiasa hidup dalam kebisingan.

Saya jadi mulai melihat rest dengan cara yang berbeda.

Rest ternyata punya hubungan erat dengan clarity. Penelitian dari Stanford University tahun 2021 menunjukkan bahwa intentional rest dan recovery membantu meningkatkan emotional regulation, kreativitas, dan kualitas pengambilan keputusan. Senada dengan penelitian Alex Soojung-Kim Pang lewat bukunya Rest: Why You Get More Done When You Work Less tahun 2016, manusia justru lebih mampu berpikir jernih ketika punya ruang recovery yang cukup.

Makanya menurut saya, rest sebenarnya bagian dari productivity juga. Bedanya, hasilnya gak selalu langsung terlihat dalam bentuk output cepat atau checklist yang selesai semua.

Terkadang memang hasilnya berupa tubuh yang lebih tenang, pikiran yang lebih jernih, atau keberanian sederhana untuk akhirnya bilang,

“kayaknya saya capek deh, saya butuh rest.”

Embracing the Unknown Ternyata Bukan Tentang Jadi Fearless

Setelah retreat selesai, saya merasa konsep embracing the unknown akhirnya terasa jauh lebih manusia daripada yang saya bayangkan sebelumnya.

Selama ini banyak orang membayangkan embracing the unknown sebagai keberanian besar menghadapi ketidakpastian.

Buat saya pribadi, hal ini lebih tentang kemampuan untuk tetap hadir walau belum tahu semuanya dan yakin bisa “bernapas” walau hidup belum sepenuhnya jelas.

Dan saya rasa itu practice.

Latihan kecil sehari-hari untuk gak buru-buru menemukan jawaban, gak terus-menerus mengontrol semuanya, dan juga percaya bahwa kadang manusia memang perlu berhenti sebentar sebelum melanjutkan langkah berikutnya.

Di dunia yang terus bergerak cepat, mungkin bentuk keberanian yang paling sederhana adalah memberi diri sendiri izin untuk perlahan melambat.

Jujyurly, after retreat selesai, saya merasa LEGAA (& proud!)~

Alih-alih lega karena acaranya berjalan lancar, saya lebih merasa lega karena ruangnya benar-benar terasa hidup.

Kalau melihat dari mood jar dan post-form, di akhir retreat, energi peserta berubah cukup signifikan dibanding awal kedatangan mereka. Kalau di awal masih terasa banyak fear, anxious, dan ketegangan, di akhir yang lebih terasa justru joy, connection, dan rasa ringan.

Beberapa peserta mulai menyadari pentingnya rest. Sebagian lain menemukan praktik-praktik kecil yang ingin mereka bawa pulang ke kehidupan sehari-hari. Dan yang paling terasa dari post-refleksi yang mereka berikan, ruang ini memberi kesempatan untuk bernapas lagi setelah sekian lama hidup dalam ritme yang terlalu cepat.

Mungkin itu yang paling saya pelajari dari retreat ini, bahwa di tengah dunia yang makin uncertainty, kita sebagai manusia mungkin sebenarnya mencari hal yang sama, yaitu ruang untuk lebih pelan, merasa aman dan keadaan dimana tidak harus punya semua jawaban sekarang juga.

A Space That Feels Alive for Me

Cara saya memahami ruang lewat desain, jeda, dan percakapan sederhana

Awal tahun ini saya ikut retreat kantor yang didesain rapih banget. Menurut saya alurnya lumayan fleksibel tapi jelas, ada fasilitator dan setiap sesi punya intensinya masing-masing. Rasanya enak dan ngalir aja karena semuanya sudah disiapin, dan para rekan kantor pun sangat terbuka satu sama lain. So, kita tinggal hadir dan ikut.

Setelah ngalamin retreatnya, note yang menurut saya penting untuk diingat ialah, “oke, berarti ruang yang bagus kyknya emang harus dirancang kayak ini kali ya.”

Beberapa minggu setelah itu, saya ikut ajakan retreat lain yang diselenggarakan oleh rekan kerja di Sukabumi, dan bersama dengan tim juga mulai pegang initial peer learning (online).

Dan dari dua pengalaman itu, saya merasakan hal yang sedikit agak beda.

Ternyata, ruang itu tuh gak literally hidup dari sekedar agendanya aja. Ada sesi yang jalan sesuai rencana, tapi percakapannya biasa aja. Pun ada momen yang agak melenceng, tapi justru kerasa lebih jujur.

Keyakinan saya semakin tinggi, bahwa orang baru mau terbuka kalau mereka merasa cukup aman. Bukan karena pertanyaannya bagus aja, tapi juga karena ruangnya kerasa "oke/approved" buat jujur saat itu.

Insight ini sebenarnya cukup sering dibahas di praktik group dynamics. Di pendekatan T-Group / experiential learning, kualitas interaksi justru banyak ditentukan oleh apa yang disebut sebagai psychological safety dan “here and now awareness” (Bradford, Gibb, & Benne, 1964; Edmondson, 1999). Orang akan lebih berani hadir ketika mereka merasa tidak sedang dinilai, dan ketika respons di dalam ruang terasa manusia, bukan performatif.

Di beberapa kesempatan saat saya ngobrol dengan rekan kerja di dalam maupun luar kantor, maupun dengan sahabat-sahabat saya, saya pun sudah mulai mencoba hal2 kecil dengan memberi nudge sederhana. Misalnya dengan pertanyaan awal yang lebih personal, menggali terus jawabannya, atau memberi waktu untuk orang benar-benar menjawab tanpa buru-buru pindah ke topik lain.

Setelah itu saya pun ngerasa hal yang lebih beda dari biasanya.

Percakapan kerasa jadi lebih grounded, dan jadinya orang mulai saling merespon satu sama lain, bukan cuman sekedar tanya jawab.


“Jeda”

Memasuki Ramadan, saya dan tim juga pegang ruang yang lebih ke arah “pause”. Gak banyak agenda dan target yang harus dicapai. Orang-orang datang, duduk, makan (buka puasa), kadang bercerita, ada juga yang diam mengamati.

Gak jarang di momen-momen kayak gitu, saya sendiri ngerasa, “ini kita lagi ngapain dan enaknya ngapain ya, diem agak lama? wkwk”

Tapi seiring berjalannya waktu, ternyata ada yang muncul nih rasa-rasa tertentu. Orang-orang yang hadir mulai cerita hal yang biasanya gak keluar di ruang formal. Ada yang cuma butuh didengar, maupun ada yang baru sadar sesuatu tentang dirinya sendiri karena mendengar perspektif dari orang lain. Biasanya dia suka respon dengan “oh iyaya..”, sambil ngangguk-ngangguk, hehe.

Karena memang jeda itu adalah bagian dari proses..

Dalam beberapa literatur tentang reflective practice, momen berhenti ini sering disebut sebagai “productive pause”, yaitu kondisi dimana orang punya cukup ruang untuk memproses pengalaman sebelum bergerak lagi (Schön, 1983). Dalam konteks kepemimpinan juga, kemampuan untuk berhenti sejenak justru sering dikaitkan dengan kualitas pengambilan keputusan yang lebih matang.

Di fase ini, saya rasanya tidak terlalu banyak intervensi. Bersama dengan tim, saya sendiri lebih ke menjaga ritme dan memastikan ruang tetap terasa cukup aman, serta melihat bagaimana orang merespon satu sama lain.

Menariknya, tanpa banyak arahan percakapan tetap menemukan arahnya sendiri, seems like “mengalir aja gitu”.


Ngobrol sebagai Cara Memahami

Di bulan berikutnya, saya kembali menggunakan bentuk ruang yang sebenarnya sudah cukup familiar, yakni ngobrol 1-on-1 dengan individu yang sering mengikuti ruang-ruang ini.

Menarik melihat bahwa percakapan jadi lebih jujur saat kita ngobrol dengan santai dan memahami cara merespon satu sama lain. Lawan bicara gak terlalu mikir harus ngomong apa yang “benar”. Cuman cerita aja.

So, ngobrol santai itu bukan sekadar waktu kosong ternyata. 
It's like a method. Cara paling natural buat mengerti orang.

Dalam pendekatan kualitatif, ini sebenarnya dekat dengan konsep informal sensemaking, dimana pemahaman sering terbentuk lewat percakapan sehari-hari, bukan hanya forum formal (Weick, 1995). Orang memaknai pengalaman mereka sambil berbicara, dan dari situ muncul kejelasan yang sebelumnya belum ada.

Di beberapa percakapan ini, saya mulai melihat adanya pola. Saat orang merasa cukup santai, mereka lebih jujur soal apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka rasakan, dan apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Dari situ, seringnya alignment bakal muncul tanpa perlu difasilitasi secara eksplisit.


Ruang sebagai Relasi

Kalau ditarik, beberapa bulan ini terasa seperti proses menguji cara kerja ruang dengan pendekatan yang berbeda.

  • ruang yang dirancang dengan struktur jelas
  • ruang yang dijaga lewat interaksi dan rasa aman
  • ruang yang memberi jeda
  • ruang yang terbentuk dari percakapan sederhana

Semua punya tempatnya masing-masing.

Yang mulai terasa jelas buat saya ialah kualitas ruang lebih banyak ditentukan oleh bagaimana orang merasa dan merespon satu sama lain, dibanding seberapa rapi desain awalnya.

Di sini, peran fasilitasi juga terasa bergeser dari yang awalnya fokus ke “mengisi ruang”, jadi lebih ke “menjaga kondisi ruang”. Memastikan orang cukup aman untuk sekedar hadir, memberi waktu untuk mendengar, dan tahu kapan perlu masuk serta diam.

Kurang lebih itu lah ya, hal-hal yang masih terus saya pelajari dan uji di beberapa konteks yang berbeda.

Kenapa Pohon Sering Membuat Saya Menangis

Tanggal 17–18 Januari 2026 kemarin, saya ikut Temu Bumi di Sukabumi. Sebuah ajakan sederhana tentang bagaimana kita berbarengan kembali ke alam, mengambil jeda, menghirup udara segar di pinggir lembah dekat Gunung Pangrango. Jauh dari kebisingan, layar, dan ritme harian yang sering bikin napas sesak.

Awalnya niat saya ke sana cukup rasional, yakni datang untuk mengamati beberapa event serupa, mencatat pendekatannya, dan melihat bagaimana ruang-ruang reflektif seperti ini dibangun. Semua itu relevan dengan kerjaan saya yang bergerak di ranah inner-resilient leadership. Saya pikir, saya akan duduk agak di pinggir, mengamati, lalu pulang membawa banyak catatan.

Awalnya saya datang untuk mengamati, namun perlahan saya diminta untuk ikutan berhenti sebentar.

Ritme kegiatannya perlahan menggeser posisi saya dari yang awalnya mikir, tubuh saya meminta untuk mengajak turun ke tanah. Dan, saya mengiyakan ajakan itu. Duduk, diam, dan menghirup. Baru terasa saat itu bahwa perjalanan ini ternyata menyimpan satu permintaan lain, yakni istirahat. Semesta seperti menyelipkan jeda di awal tahun ini, dan saya akhirnya mengiyakannya, hehe..


Sesi Grounding dan Tangis yang Datang Tanpa Aba-Aba

Di salah satu sesi grounding, kami diminta menyentuh pohon. Intensinya sederhana sebenarnya. Kami diminta untuk merasakan dan menghubungkan diri.

Nah, di situ ada kejadian yang bikin saya sendiri agak kaget. Begitu tangan menyentuh batang pohon, dada langsung sesak. Air mata keluar sedikit demi sedikit begitu saja. Refleks saya malah minta maaf. Minta maaf ke pohon itu dengan mewakili manusia, atas cara kita yang sering memperlakukan mereka dengan sembrono. Rasionalitas saya soal catat mencatat langsung kabur begitu saja, saya semakin ganti mode menjadi “Perasa”.

Tangis itu datang tanpa drama, lebih seperti pengakuan bahwa ada hubungan yang lama sekali terabaikan.


Tubuh, Energi, dan Ingatan yang Lebih Tua dari Pikiran

Setelah sesi itu, saya terpikir..

Kenapa ya respons tubuh saya sedalam itu?

Beberapa konsep seperti biophilia menjelaskan bahwa manusia memang punya kecenderungan alami untuk terkoneksi dengan alam. Ternyata ini bukan soal suka pemandangan hijau semata aja, melainkan dorongan bawaan yang sudah lama hidup di tubuh kita.

Manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk merasa terhubung dengan alam. Seperti sebuah dorongan biologis yang hidup lebih lama dari cara hidup modern kita saat ini.

Oleh karena itu, ketika berada dekat pohon, hutan, atau tanah, tubuh sering merasa “pulang”.

Praktik forest bathing dari Jepang juga menunjukkan hal serupa. Berada di sekitar pohon membantu menurunkan hormon stres, menenangkan sistem saraf, dan memperbaiki suasana hati. Pohon melepaskan fitonutrien yang kita hirup bersama udara.

Ketika kita menghirup udara di hutan, tubuh sebenarnya sedang berinteraksi dengan senyawa alami yang dilepaskan pohon.

Sedangkan dalam banyak tradisi lama, pohon dipercaya sebagai penyimpan energi bumi. Akar yang menancap dalam, batang yang tegak, dan daun yang menangkap cahaya menciptakan keseimbangan yang terasa akrab bagi tubuh manusia.


Kita Ini Sebenarnya Alam yang Sedang Belajar Mengingat

Yang bikin saya termenung ialah soal satu kesadaran sederhana, bahwa kita sering merasa sedang mendatangi alam, padahal kita bagian darinya.

Tubuh kita air, mineral, dan karbon. Napas kita bertukar dengan daun. Makanan kita lahir dari tanah. Namun keseharian membuat relasi ini terasa jauh, seolah alam cuma latar dan manusia pemeran utamanya. Makanya, ketika tangan menyentuh pohon kemarin, rasanya seperti mengingat sesuatu yang lama sekali tertimbun oleh rutinitas.

Kita sering merasa sedang mendatangi alam, padahal kita bagian darinya.

Kesadaran itu datangnya pelan, dan tanpa perlu penjelasan panjang. Cukup lewat tubuh yang merespons lebih dulu.


Closingan

Saya menulis ini sebagai catatan atas pengalaman yang saya alami. Ada sesuatu yang terasa penting untuk disimpan meskipun datangnya sangat sederhana bagi saya. Pengalaman ini saya biarkan apa adanya, tanpa perlu dibesar-besarkan maupun diarahkan ke mana-mana.

Tubuh sering tahu lebih dulu dibanding pikiran kita, tinggal kita mau mendengarkannya atau tidak.

Dan di tengah hidup yang makin cepat, momen-momen seperti ini terasa layak dirawat. Ada jeda yang membantu kita mengingat kembali. Siapa tahu, yang sedang kita cari selama ini sudah berdiri diam di depan kita, punya akar yang kuat dan sambil menunggu untuk disapa.

Rasa Gemas dan Keinginan Ngerawat Sesuatu

Waktu pertama kali pindah kantor, ada satu taman di sudut kantor yang hampir setiap Senin saya lewati. Awalnya yaa lewat aja gitu. Sampai di satu titik rasa-rasanya saya mulai memperhatikan detail yang sama berulang kali. Tanamannya tumbuh seadanya, susunannya rada acak, ada pot-galon yang mengganggu mata, dan keseluruhan suasananya terasa kyk nanggung. Padahal ruangnya punya potensi besar kalau disentuh dengan niat yang bener.

Dari situ rasa gemas saya mulai muncul.

Saya suka gemas akan sesuatu yang aneh. Dulunya saya mengkalim bahwa saya seorang yang perfeksionis, sering banget dorongan seperti rasa gemas muncul dari keinginan semuanya harus rapi, tepat, dan sesuai standar pribadi. Tapi makin ke sini sifatnya saya rasa udah berkurang, hehe. Gemas yang kali ini bikin mikir, kepikiran. Harusnya sudut semacam ini bisa jadi tempat yang lebih menyenangkan buat dilewati setiap hari. Saya mulai ngerasa taman ini seperti punya dimensi sendiri, haha, padahal kantor adalah tempat banyak energi manusia keluar-masuk hampir setiap hari.

Menurut saya, ruang kerja juga pantas dirawat sebagai ruang hidup. 🍃


Mencari orang yang mau dengerin niat ini.

Setelah rasa gemas itu muncul saya langsung aja kengidean langsung cari vendor sendiri. Saat foto-foto tamannya, ada rekan kerja yang tanya, “Lo ngapain foto-fotoin taman, Gas?”. Saya jawab, “Mau nyoba tanya-tanya aja ke partner, kalau mau rapihin taman ini, berapa sih harganya? hehe”. So far, orang kantor, terutama manajemen, aman-aman aja, bahkan ngedukung dengan banyak kasih ide.

Prosesnya tergolong singkat, yang bikin lama karena sempat dighosting sama salah satu vendor. Sampai akhirnya ketemu satu vendor yang bikin saya ngerasa, “okeh, orang ini paham nih maksud gue!”. Saya cerita soal keinginan mengisi taman dengan tanaman yang biasa hidup di hutan hujan, tanaman yang tumbuh di bawah naungan, akrab sama kelembapan kantor, nyaman dilihat saat hujan, dan terbiasa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berubah-ubah.

“Tanaman yang terbiasa beradaptasi, mengajarkan cara tumbuh tanpa harus menuntut banyak.”


Ketika taman mulai terasa beda

Proses penanaman berlangsung sekitar dua hari, lengkap dengan sistem penyiraman otomatis di bagian vertikal, jadi tanamannya bisa lebih mudah dirawat. Setelah selesai, susunannya lebih tertata, warnanya lebih enak dilihat, dan rasanya beda waktu dilewati. Ada perubahan yang kerasa walau bentuknya sederhana.


Tanaman, manusia, dan jeda di hari kerja

Saya lalu kepikiran bikin satu pertanyaan sederhana dan saya taruh di dekat taman yang ditujukan untuk orang kantor, atau siapun yang merasa taman ini kerasa “beda”.

Tanaman apa yang paling menggambarkan dirimu?

Orang-orang kantor mostly responsnya lumayan lucu dan excited. Ada yang berhenti sebentar cuma buat scan, isi, dan baca. Ada yang langsung nyeletuk, “eh ini kayaknya lumayan relate sama gue, tapi yang bagian ini nggak, yaa boleh lah.” Ada yang ngerasa mirip pakis yang tumbuh konsisten dan setia. Ada juga yang ngerasa dekat sama monstera yang daunnya berlubang.

Harapannya, setelah orang kantor tahu kemiripan mereka dengan salah satu tanaman dari sisi pertumbuhannya, penampilannya atau cara mereka bermanfaat untuk sekitar, mereka punya sense of connected atau ownership sama tanaman tersebut. Bisa aja setiap lewat, tanamannya disapa dan diajak ngobrol lebih jauh, hehe.

“Ngajak ngobrol tanaman memungkinkan orang untuk melambat dan menyadari bahwa kita adalah bagian dari mereka, alam

Sekarang setiap kali saya situ, saya ngerasa sudut ini mulai punya cerita sendiri. Tanaman-tanaman dari hutan hujan itu tumbuh dengan caranya masing-masing, dan entah kenapa ngingetin kalau tumbuh itu proses yang panjang, kadang sepi, tapi tetap tumbuh.

Dan ya, ini masih awal. PR saya sekarang adalah merawat tanaman-tanaman ini bareng orang-orang kantor, saling ngingetin, saling nyiram, saling jaga, hehe. Semoga tamannya awet, manusianya juga, wkwk.

Bekerja di Tim Kecil, dan Konsekuensi yang Ikut Tumbuh

Menarik bagi saya untuk menceritakan tentang suasana tertentu ketika bekerja di tim yang jumlahnya sepuluh sampai belasan orang saja. Ruang kerja terasa akrab, obrolan sangat cepat berpindah dari hal teknis ke urusan personal, dan keputusan sering lahir dari percakapan singkat yang berlangsung di sela-sela pekerjaan. Hampir tidak ada jarak antara peran, gagasan, dan manusia yang menjalankannya.

Pengalaman itu saya temui sejak bekerja di Hutan Itu Indonesia (HII), lalu berlanjut di BLESS Indonesia Foundation. Dua organisasi dengan skala tim yang relatif kecil, namun ritme dan tuntutannya tumbuh cepat. Dari situ, saya mulai memahami bahwa tim kecil membawa sesuatu yang lebih dari sekadar kecepatan dan kedekatan. Terdapat konsekuensi yang ikut tumbuh, seiring organisasi dan manusianya bergerak bersama.


Masuk dengan Peran Jelas, Bertumbuh Bersama Kebutuhan

Saat pertama masuk di HII, peran saya cukup jelas, multimedia designer. Fokusnya produksi konten, visual, video, dan berbagai format lain. Seiring waktu, kebutuhan organisasi berkembang. Sebuah konten saat itu tidak lagi berdiri sendiri, ia memerlukan arah strategi, narasi, dan konsistensi.

Perubahan peran ini tidak sepenuhnya terjadi secara samar. Ada momen resmi ketika saya masuk ke tim fundraising, dan sejak itu peran saya bergeser lebih jelas ke ranah kreatif, komunikasi pemasaran, hingga komunikasi digital. Pergeseran ini menandai adanya pergerakan fase di saya, dari eksekusi visual ke peran yang sedikit lebih strategis dalam membentuk pesan, merancang perilaku untuk suatu produk (website),memberikan ide, sampai arah komunikasi bersama dengan rekan kerja di tim tersebut.

Di tim kecil, pergeseran semacam ini terasa wajar. Banyak peran saling tumpang tindih, dan orang-orang di dalamnya cukup berani menyadari kenyataan tersebut. Di HII, kesadaran itu muncul sekitar satu tahun berjalan. Kami mulai melihat siapa mengerjakan apa, sejauh mana kapasitas masing-masing, apa yang bisa kita sama-sama saling bantu, serta kapan harus saling mengingatkan agar tenaga tidak terkuras berlebihan.


Kedekatan yang Menguatkan, Sekaligus Menguras

Salah satu hal yang saya rasakan sebagai kekuatan tim kecil adalah empati.

Tidak ada jarak emosional yang terlalu jauh. Ketika satu orang kewalahan, yang lain cenderung peka dan bergerak membantu.

Saya mengalami sendiri momen ketika sedang relatif lowong, lalu mengambil pekerjaan tambahan yang berada di luar peran awal. Waktu itu, perasaan yang muncul justru menyenangkan. Saya merasa saling mendukung, ditambah apresiasi yang tulus dari rekan-rekan. Kerja terasa sebagai ruang kebersamaan, bukan sekadar daftar tugas atau jobdesk aja.

Namun, kedekatan ini juga membawa dinamika lain.


Belajar Menjaga Batas, Terutama dengan Waktu

Bagi saya pribadi, tantangan terbesarnya terletak pada waktu.

Banyak pekerjaan selaras dengan minat dan ketertarikan personal. Akibatnya, batas antara kerja dan kesukaan menjadi samar. Banyak momen saat-saat ketika saya lupa membedakan mana yang dikerjakan demi tanggung jawab profesional, dan mana yang saya lakukan karena menikmati prosesnya.

Di tim kecil, jarang ada sistem yang memberi peringatan dini. Kesadaran sering harus dibangun secara personal, lalu dibicarakan bersama. Mengambil jeda dan meninjau ulang prioritas menjadi keterampilan yang terus saya latih, terutama ketika ritme kerja cepat dan kebutuhan datang bersamaan.


Ketika Peran Bertambah, Cara Memimpin Ikut Berubah

Pengalaman saya di BLESS membawa lapisan baru, yakni peran kepemimpinan. Bukan hanya karena BLESS bekerja dengan individu-individu penjaga perubahan yang terbiasa memimpin. Kini saya memiliki bawahan dengan dinamika tim kecil yang terasa semakin nyata. Kalau sudah gini, ekspektasi perlu diselaraskan, produktivitas juga perlu dijaga, dan kesehatan mental tim tidak bisa diabaikan.

Momen reflektif saya muncul ketika menyadari bahwa saya sempat memandang deliverables tim sebagai cerminan langsung dari diri saya. Target terasa sangat personal memang. Standar kerja yang terbentuk dari kebiasaan bekerja mandiri saya bawa ke seluruh tim. Seiring waktu, saya belajar menyesuaikan skala ekspektasi, bukan untuk menurunkan kualitas, tetapi untuk memberi ruang tumbuh dan belajar bagi orang lain.

Di tim kecil, emosi cepat terasa dan jarang tersembunyi lama. Untungnya, ruang komunikasi terbuka membuat hal-hal tersebut bisa dibicarakan meski gak keliatan gampang.


Selain kerja penuh waktu, saya juga menjalani peran magang, paruh waktu, maupun consultant-based di WWF Indonesia, UNDP Indonesia, Food for Hungry, dan Rainforest Alliance. Dalam konteks ini, peran saya lebih banyak berfokus pada koordinasi dengan atasan dan memastikan deliverables berjalan sesuai arah program. Pengalaman ini memberi perspektif berbeda, yakni bekerja dengan struktur yang lebih mapan dan tetap membutuhkan kejelasan komunikasi serta tanggung jawab personal.


Bekerja di organisasi kecil sering dianggap cocok untuk semua orang yang ingin bergerak cepat dan belajar banyak.

Dari pengalaman saya, kecocokan sering kali soal fase hidup dan kebutuhan masing-masing. Ada orang yang berkembang di ruang kerja yang cair dan dekat. Ada juga yang lebih nyaman dengan batas peran yang jelas.

Keduanya sama-sama sah.

Saya masih bekerja di tim kecil hingga hari ini dan saya sangat senang menjalaninya. Sampai saat ini saya masih banyak belajar menegosiasikan peran, waktu, dan ekspektasi. Satu hal terasa jelas menurut saya ialah, memilih bekerja di organisasi kecil berarti menerima paket utuhnya, soal kedekatan, kepercayaan, serta tanggung jawab yang tumbuh bersama.

Sedikit Cerita dari Global Leadership Academy di Bangkok

Tiga hari di Bangkok ternyata gak kerasa seperti program leadership pada umumnya. Awalnya saya membayangkan Global Leadership Academy (GLA) dari AVPN bakal dipenuhi presentasi, framework, dan sesi networking formal yang padat dari pagi sampai malam. Tapi ternyata suasananya jauh lebih cair daripada yang saya bayangkan.

Alih-alih dijejali materi terus-menerus, kami justru diajak mengalami berbagai bentuk percakapan dan pembelajaran yang muncul dari interaksi antarpeserta. Dan somehow, justru pendekatan kayak gitu yang bikin pengalaman ini terasa lebih membekas.

Yang paling menarik bagi saya, selama tiga hari program berjalan hampir gak ada presentasi formal dari tim AVPN sendiri, eh justru gak ada sama sekai deh. Bahkan fasilitator utamanya hanya satu orang, yakni Kurt Peleman. Selebihnya, ruang benar-benar dibentuk oleh energi kelompok, percakapan yang muncul secara natural, dan bagaimana setiap orang membawa perspektifnya masing-masing ke dalam ruangan.


Embracing the Unknown Sejak Hari Pertama

Sebelum program benar-benar dimulai, Kurt sempat bilang kalau selama beberapa hari ke depan kami akan banyak berhadapan dengan uncertainty. Katanya, sebagian proses di GLA memang sengaja dibuat agar peserta gak selalu tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Waktu itu saya masih menganggapnya sebagai semacam opening statement biasa.

Tapi ternyata, konsep itu benar-benar diterapkan sepanjang acara, wihihiw.

Sering sekali kami gak tahu habis ini bakal ada sesi apa, output akhirnya seperti apa, atau kenapa sebuah aktivitas dilakukan. Bahkan kadang transisinya terasa terlalu organik sampai saya kepikiran, “Setelah ini sebenernya lagi mau diarahin ke mana ya?”

Tbh, di awal saya cukup anxious.

Karena sebagai orang yang terbiasa bekerja dengan agenda, struktur, dan timeline yang jelas, situasi kayak gitu cukup bikin gak nyaman. Rasanya seperti terus berjalan tanpa peta dan arah yang utuh. Tapi makin lama saya mulai tersadar kalau justru itu pengalaman yang ingin diberikan oleh GLA, yaitu hidup di tengah ketidakpastian tanpa harus buru-buru mengontrol semuanya.

Kadang manusia terlalu sibuk mencari kepastian sampai lupa memberi ruang bagi kemungkinan baru untuk muncul.

Menariknya, Kurt gak langsung menjelaskan semua maksud di balik metode yang dipakai selama program berlangsung. Jadi sepanjang proses, kami benar-benar dibiarkan mengalami dulu rasa bingungnya, awkward-nya, bahkan rasa penasarannya.

Baru di akhir acara, satu per satu benang merahnya mulai dijelaskan. Dan di situ banyak peserta langsung punya reaksi yang sama:

“Ohhh… jadi maksudnya itu.”

Ada semacam rasa clarity sekaligus re-energized setelah akhirnya memahami kenapa ruangnya dibuat seperti itu sejak awal. Karena ternyata, banyak metode yang dipakai memang sengaja dirancang untuk membuat peserta mengalami uncertainty secara langsung, alih-alih hanya mendiskusikannya secara teori.

Ketika Cerita Personal Mengubah Suasana Ruangan

Salah satu sesi pertama yang paling membekas buat saya adalah Tree of Life. Salah seorang membuka sesi dengan cerita yang sangat personal tentang pengalaman cinta pertamanya di Thailand. Dari first kiss sampai rasa kehilangan, semuanya diceritakan dengan sangat manusiawi dan gak dibuat-buat. Menariknya, justru karena itu suasana ruangan langsung berubah.

Orang-orang mulai lebih terbuka, percakapan jadi terasa lebih genuine, dan defense perlahan turun. Dari situ saya makin tersadar kalau trust sering kali muncul karena ada keberanian untuk hadir sebagai manusia biasa, dibanding seseorang yang terlihat paling profesional atau paling pintar

Pengalaman itu bikin saya refleksi cukup jauh tentang banyak ruang kolaborasi yang pernah saya temui. Gak jarang ya, kita terlalu cepat masuk ke strategi, target, dan output tanpa benar-benar membangun rasa aman terlebih dahulu. Padahal, kalau manusianya belum merasa cukup nyaman untuk hadir secara utuh, percakapan yang muncul biasanya hanya berhenti di permukaan.

Banyak ruang kolaborasi gagal berkembang bukan karena kurang ide, tapi karena manusianya belum benar-benar merasa aman.

Belajar Mendengar Tanpa Sibuk Menjawab

Perasaan itu makin terasa waktu masuk ke sesi generous listening. Di sesi ini kami diajak untuk benar-benar mendengar tanpa sibuk menyiapkan jawaban. Dan ternyata itu jauh lebih susah daripada kelihatannya.

Saya baru sadar kalau selama ini sebagian besar orang mendengarkan sambil berpikir tentang apa yang akan mereka katakan berikutnya. Akibatnya, banyak percakapan rasanya kayak cepat, penuh respon, tapi sebenarnya minim kehadiran. Sementara di sesi ini, justru ada banyak jeda, silence, dan ruang kosong yang awalnya terasa agak awkward.

Tapi makin lama, silence itu justru terasa menenangkan. Orang-orang mulai berbicara lebih jujur dan reflektif. Bahkan beberapa cerita yang muncul terasa seperti sesuatu yang selama ini mereka tahan sendiri.

Saya jadi sadar kalau silence itu tanda bahwa seseorang sedang merasa cukup aman untuk benar-benar berpikir dan didengar.

Dunia hari ini terlalu cepat bereaksi. Mungkin itu kenapa banyak orang lupa rasanya benar-benar didengar.

Tentang Power, Perspektif, dan Siapa yang Punya Ruang Bicara

Refleksi tentang ruang dan perspektif itu berlanjut di sesi Deep Democracy. Kami banyak membahas tentang power dynamics dan bagaimana suara tertentu sering kali lebih dominan dibanding yang lain, bahkan di ruang yang katanya kolaboratif sekalipun.

Contohnya ketika organisasi besar, donor besar, atau pemain global secara gak sadar mengambil terlalu banyak ruang dalam percakapan, sementara suara lokal perlahan tersisih. Diskusi itu cukup mengganggu pikiran saya karena saya mulai bertanya ke diri sendiri soal apakah selama ini saya juga pernah tanpa sadar melakukan hal yang sama dalam ruang-ruang yang saya fasilitasi?

Bukan karena niat buruk, terkadang dominasi itu bisa jadi muncuk karena posisi, bahasa, atau siapa yang paling nyaman bicara lebih dulu.

Pembelajaran dari saya ialah ternyata menciptakan ruang yang benar-benar inklusif ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar memberi kesempatan bicara.

Percakapan Tentang Kelelahan Para Leaders

Hal itu juga terasa kuat di sesi Open Space Technology, di mana peserta bebas membawa topik yang mereka rasa penting. Saya mengangkat tema tentang well-being dan resilience para leaders, dan ternyata resonansinya besar banget, hehehe.

Banyak peserta cerita tentang rasa capek yang sulit dijelaskan, rasa lonely di posisi leadership, sampai tekanan untuk selalu terlihat kuat di depan tim atau organisasinya. Yang menarik, sebagian besar dari mereka sebenarnya tidak mencari solusi besar. Melainkan hanya ingin punya ruang untuk bernapas sebentar dan bicara dengan orang lain yang benar-benar paham rasanya.

Beberapa peserta cerita kalau mereka mencoba menjaga dirinya lewat hal-hal sederhana seperti yoga, dancing, olahraga, atau sekadar ngobrol dengan peer yang setara. Dan dari semua percakapan itu, ada satu hal yang paling membekas buat saya, yakni banyak founders dan leaders terlalu sibuk menjaga organisasinya sampai lupa menjaga dirinya sendiri.

Banyak orang ingin memperbaiki dunia, tapi tubuh dan pikirannya sendiri belum sempat benar-benar bernapas.

Percakapan Tentang Kelelahan Para Leaders

Semakin lama mengikuti GLA, saya makin merasa kalau program ini sebenarnya bukan tentang menjadi leader yang selalu punya jawaban. Justru sebaliknya, kami terus diajak hidup di tengah ketidakjelasan dan belajar tetap hadir di dalamnya.

Ketika bekerja dengan manusia dan berbagai kompleksitas di dalamnya, selalu ada variabel yang gak bisa kita kontrol. Dan mungkin di situlah pentingnya reflective thinking. Jauh daripada sekadar memastikan semuanya sempurna, melainkan untuk membantu kita tetap sadar, adaptif, dan terbuka terhadap perspektif baru.

Kalau saya harus merangkum satu hal paling besar dari pengalaman ini, mungkin jawabannya sederhana, yaitu leadership adalah tentang membuat ruang. Ruang untuk mendengar, berpikir perlahan, dan ruang untuk gak harus selalu terlihat kuat. Juga ruang untuk hadir sebagai manusia utuh di tengah dunia yang terus bergerak cepat.

Pulang dari Bangkok, saya jadi makin yakin kalau kerja-kerja yang sedang dibangun BLESS (tempat saya bekerja perhari ini) memang sangat dibutuhkan hari ini. Mungkin dunia sekarang gak kekurangan orang pintar. Tapi dunia mulai kekurangan ruang yang membuat manusia bisa bernapas sedikit lebih pelan.