A Space That Feels Alive for Me

Cara saya memahami ruang lewat desain, jeda, dan percakapan sederhana

Awal tahun ini saya ikut retreat kantor yang didesain rapih banget. Menurut saya alurnya lumayan fleksibel tapi jelas, ada fasilitator dan setiap sesi punya intensinya masing-masing. Rasanya enak dan ngalir aja karena semuanya sudah disiapin, dan para rekan kantor pun sangat terbuka satu sama lain. So, kita tinggal hadir dan ikut.

Setelah ngalamin retreatnya, note yang menurut saya penting untuk diingat ialah, “oke, berarti ruang yang bagus kyknya emang harus dirancang kayak ini kali ya.”

Beberapa minggu setelah itu, saya ikut ajakan retreat lain yang diselenggarakan oleh rekan kerja di Sukabumi, dan bersama dengan tim juga mulai pegang initial peer learning (online).

Dan dari dua pengalaman itu, saya merasakan hal yang sedikit agak beda.

Ternyata, ruang itu tuh gak literally hidup dari sekedar agendanya aja. Ada sesi yang jalan sesuai rencana, tapi percakapannya biasa aja. Pun ada momen yang agak melenceng, tapi justru kerasa lebih jujur.

Keyakinan saya semakin tinggi, bahwa orang baru mau terbuka kalau mereka merasa cukup aman. Bukan karena pertanyaannya bagus aja, tapi juga karena ruangnya kerasa "oke/approved" buat jujur saat itu.

Insight ini sebenarnya cukup sering dibahas di praktik group dynamics. Di pendekatan T-Group / experiential learning, kualitas interaksi justru banyak ditentukan oleh apa yang disebut sebagai psychological safety dan “here and now awareness” (Bradford, Gibb, & Benne, 1964; Edmondson, 1999). Orang akan lebih berani hadir ketika mereka merasa tidak sedang dinilai, dan ketika respons di dalam ruang terasa manusia, bukan performatif.

Di beberapa kesempatan saat saya ngobrol dengan rekan kerja di dalam maupun luar kantor, maupun dengan sahabat-sahabat saya, saya pun sudah mulai mencoba hal2 kecil dengan memberi nudge sederhana. Misalnya dengan pertanyaan awal yang lebih personal, menggali terus jawabannya, atau memberi waktu untuk orang benar-benar menjawab tanpa buru-buru pindah ke topik lain.

Setelah itu saya pun ngerasa hal yang lebih beda dari biasanya.

Percakapan kerasa jadi lebih grounded, dan jadinya orang mulai saling merespon satu sama lain, bukan cuman sekedar tanya jawab.


“Jeda”

Memasuki Ramadan, saya dan tim juga pegang ruang yang lebih ke arah “pause”. Gak banyak agenda dan target yang harus dicapai. Orang-orang datang, duduk, makan (buka puasa), kadang bercerita, ada juga yang diam mengamati.

Gak jarang di momen-momen kayak gitu, saya sendiri ngerasa, “ini kita lagi ngapain dan enaknya ngapain ya, diem agak lama? wkwk”

Tapi seiring berjalannya waktu, ternyata ada yang muncul nih rasa-rasa tertentu. Orang-orang yang hadir mulai cerita hal yang biasanya gak keluar di ruang formal. Ada yang cuma butuh didengar, maupun ada yang baru sadar sesuatu tentang dirinya sendiri karena mendengar perspektif dari orang lain. Biasanya dia suka respon dengan “oh iyaya..”, sambil ngangguk-ngangguk, hehe.

Karena memang jeda itu adalah bagian dari proses..

Dalam beberapa literatur tentang reflective practice, momen berhenti ini sering disebut sebagai “productive pause”, yaitu kondisi dimana orang punya cukup ruang untuk memproses pengalaman sebelum bergerak lagi (Schön, 1983). Dalam konteks kepemimpinan juga, kemampuan untuk berhenti sejenak justru sering dikaitkan dengan kualitas pengambilan keputusan yang lebih matang.

Di fase ini, saya rasanya tidak terlalu banyak intervensi. Bersama dengan tim, saya sendiri lebih ke menjaga ritme dan memastikan ruang tetap terasa cukup aman, serta melihat bagaimana orang merespon satu sama lain.

Menariknya, tanpa banyak arahan percakapan tetap menemukan arahnya sendiri, seems like “mengalir aja gitu”.


Ngobrol sebagai Cara Memahami

Di bulan berikutnya, saya kembali menggunakan bentuk ruang yang sebenarnya sudah cukup familiar, yakni ngobrol 1-on-1 dengan individu yang sering mengikuti ruang-ruang ini.

Menarik melihat bahwa percakapan jadi lebih jujur saat kita ngobrol dengan santai dan memahami cara merespon satu sama lain. Lawan bicara gak terlalu mikir harus ngomong apa yang “benar”. Cuman cerita aja.

So, ngobrol santai itu bukan sekadar waktu kosong ternyata. 
It's like a method. Cara paling natural buat mengerti orang.

Dalam pendekatan kualitatif, ini sebenarnya dekat dengan konsep informal sensemaking, dimana pemahaman sering terbentuk lewat percakapan sehari-hari, bukan hanya forum formal (Weick, 1995). Orang memaknai pengalaman mereka sambil berbicara, dan dari situ muncul kejelasan yang sebelumnya belum ada.

Di beberapa percakapan ini, saya mulai melihat adanya pola. Saat orang merasa cukup santai, mereka lebih jujur soal apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka rasakan, dan apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Dari situ, seringnya alignment bakal muncul tanpa perlu difasilitasi secara eksplisit.


Ruang sebagai Relasi

Kalau ditarik, beberapa bulan ini terasa seperti proses menguji cara kerja ruang dengan pendekatan yang berbeda.

  • ruang yang dirancang dengan struktur jelas
  • ruang yang dijaga lewat interaksi dan rasa aman
  • ruang yang memberi jeda
  • ruang yang terbentuk dari percakapan sederhana

Semua punya tempatnya masing-masing.

Yang mulai terasa jelas buat saya ialah kualitas ruang lebih banyak ditentukan oleh bagaimana orang merasa dan merespon satu sama lain, dibanding seberapa rapi desain awalnya.

Di sini, peran fasilitasi juga terasa bergeser dari yang awalnya fokus ke “mengisi ruang”, jadi lebih ke “menjaga kondisi ruang”. Memastikan orang cukup aman untuk sekedar hadir, memberi waktu untuk mendengar, dan tahu kapan perlu masuk serta diam.

Kurang lebih itu lah ya, hal-hal yang masih terus saya pelajari dan uji di beberapa konteks yang berbeda.