Proses Kreatif yang Menyenangkan: Sketsa dan AI

Dalam kerja saya, ide biasanya jarang datang dalam kondisi yang perfect. Biasanya masih berupa bayangan, rasa, atau keinginan “make something” yang bikin orang berhenti sebentar. Di tahap ini, saya mending langsung melempar isi kepala ke berbagai medium, salah satunya lewat AI.

Lewat eksplorasi visual, saya bisa mencoba banyak kemungkinan tanpa harus keburu serius. Bentuknya kadang aneh, kadang terlalu muluk, kadang malah lucu sendiri. Tapi justru dari situ kelihatan mana yang punya potensi dan mana yang kayaknya cukup disimpan saja di folder eksperimen hehe.

AI di fase ini rasanya kayak papan lempar ide menurut saya. Tempat ngetes rasa, main-mainan bentuk, dan ngobrol sama diri sendiri sebelum ngobrol sama orang lain.


Pohon besar LED di IdeaFest 2024, dari coret-coretan ke ruang nyata

Waktu mengembangkan konsep pohon besar dengan LED di IdeaFest 2024, saya mulai dari gambar yang sangat sederhana. Jujur aja, kalau dilihat orang lain mungkin reaksinya “ini apaan?” haha. Tapi buat saya, gambar itu sudah cukup menyimpan sebuah arah dan niat.

Dari coretan tersebut, saya pakai AI untuk memvisualkan berbagai versi pohon. Tinggi rendahnya, kesan organiknya, sampai bayangan bagaimana cahaya bekerja di ruang ramai. Visual-visual ini sangat membantu saat diskusi dengan tim dan vendor, karena semua orang punya pegangan yang sama.


Begitu masuk tahap produksi, fokus saya bergeser. Dari gambar ke experience. Dari bentuk abstrak ke rasa. Saya mulai mikirin alur pengunjung, capek berdiri, tempat orang berhenti, dan kemungkinan momen hening di tengah keramaian. Hal-hal semacam ini lebih gampang dibaca lewat pengalaman di lapangan daripada lewat layar.

Props kardus saat launching BLESS dan proses yang mirip tapi beda rasa

Pengalaman serupa kejadian saat mengembangkan props kardus untuk launching BLESS. Di awal, saya pakai AI untuk menyusun bayangan bentuk dan komposisi. Lumayan buat ngerapihin ide sebelum dilempar ke produksi.

Namun ketika sudah bicara soal ukuran nyata, bahan, dan konteks acara, banyak keputusan yang datang dari diskusi dan insting. Apakah orang bakal berhenti lihat props ini atau cuma lewat. Apakah pesannya kebaca tanpa perlu dijelasin panjang lebar. Apakah suasananya selaras sama nilai yang mau dibawa BLESS.

Kadang jawabannya muncul cepat, kadang setelah bengong agak lama sambil ngopi.

Ada jarak yang cukup terasa antara visual digital dan versi lapangan. Visual digital sering terlihat mulus, sementara di lapangan semuanya perlu disesuaikan. Mulai dari anggaran, waktu, tenaga, dan kondisi ruangpun turut andil dalam penyesuaian.

Di titik ini, saya belajar memilih mana yang penting dan mana yang bisa dikendurkan sedikit. Daripada ngejar visual sempurna, saya mending fokus ke pengalaman yang terasa jujur dan relevan buat orang yang datang. Seringnya sih hasil akhirnya malah terlihat lebih hangat dari bayangan awal.


Tentang AI, manusia, dan kerja bareng yang sehat

Makin ke sini, saya melihat teknologi seperti AI akan terus hadir di proses kreatif. Tinggal bagaimana cara kita memakainya. Buat saya, AI enak dipakai buat membuka kemungkinan, mempercepat eksplorasi, dan bantu ngobrol lintas tim.

Sementara arah, rasa, dan makna tetap saya pegang sebagai manusia. Kepekaan terhadap ruang, tubuh, emosi, dan konteks personal rasanya masih sulit ditiru mesin. Dan di situlah karakter tiap orang tetap punya tempat.

Kalau perannya seimbang, kolaborasinya terasa menyenangkan, bukan bikin kerjaan makin ruwet.

Cerita-cerita proses seperti ini rasanya layak dicatat. Biar ingat kalau karya jarang lahir dari satu kali jadi. Selalu ada fase ragu, coba-coba, gagal dikit, lalu nemu arah baru.

Dan ya, ini masih awal. PR saya berikutnya adalah merawat semua proses dan kolaborasi ini, sambil tetap belajar pakai alat-alat baru tanpa kehilangan rasa. Bisa jadi besok metodenya berubah lagi. Kita lihat saja nanti hehe.