Proses Kreatif yang Menyenangkan: Sketsa dan AI

Dalam proses saya bekerja, ide biasanya jarang muncul dalam kondisi yang perfect.

Biasanya masih berupa bayang2, rasa, atau keinginan “make something” yang bikin orang terpana, terkesima, eaa. Di fase kyk ini, saya mending langsung melempar isi kepala ke berbagai medium, salah satunya lewat sketsa, maupun AI (Artificial Intelligence).

Lewat eksplorasi visual, saya biasanya coba banyak kemungkinan tanpa harus keburu serius. Bentuknya seringnya aneh, gak muluk2, atau malah sering keliatan lucu sendiri.

Tapi justru dari situ kelihatan mana yang punya potensi, atau mana yang kayaknya cukup disimpan saja di folder eksperimen, hehe.

_

Beberapa tahun sebelum AI mampu memvisualisasikan bentuk sketsa dengan instan, saat di Hutan Itu Indonesia saya juga melakukan hal yang sama (yaitu sketsa first) bersama dengan Talented Graphic Designer HII (Kak Zuhda) dalam membuat Maskot Hutan Itu Indonesia, dan itu bisa dibaca-baca di sini yaa: Cerita Si Sihon~ 👈

Di fase ini (coret-coret di notes maupun ngobrol dengan AI), rasanya kayak papan lempar ide. Tempat ngetes rasa, main-mainan bentuk, dan ngobrol sama isi kepala sendiri sebelum ngobrol sama orang lain.


Pohon besar LED di IdeaFest 2024: Coret-coretan yang bermuara ke ruang nyata

Waktu ngembangin konsep pohon besar dengan panel LED di IdeaFest 2024 bersama dengan tim, saya mulai ngegambar dari yg simple. Jujur aja, kalau dilihat orang lain mungkin reaksinya “ini apaan yak?” wkwk. Tapi buat saya sendiri, gambar itu sudah cukup menyimpan sebuah niatan besar dan arah desain yang lumayan laah~

Nah, dari coretan tersebut, saya pakai AI untuk memvisualkan berbagai versi pohon. Tinggi rendahnya, kesan organiknya, sampai bayangan bagaimana cahaya bekerja di ruang ramai. Visual-visual ini sangat membantu saat diskusi dengan tim dan vendor, karena semua orang punya pegangan yang sama.


Begitu masuk tahap produksi, fokus saya bergeser dari gambar ke experience, dan dari bentuk abstrak ke rasa.

Saya mulai mikirin alur pengunjung, tingkat kenyamanan, capek berdiri, tempat orang berhenti, dan kemungkinan momen hening di tengah keramaian. Hal-hal semacam ini lebih gampang dibaca lewat pengalaman di lapangan daripada lewat layar.

_

And turns out, pohon ini gak cuman berguna untuk tampilin sesi-sesi selama di IdeaFest aja, melainkan juga bagian dalamnya dipakai sebagai space untuk menikmati jelajah virtual kapuas hulu dengan VR360 dan menjadi ruang tenang in collab with Sanustra :))

Di sini kita gak ngebahas kenapa muncul ide pohon besar yaa.. karena itu tema besar campaignnya, yang mungkin bisa diceki-ceki di sini.

Props kardus saat launching BLESS 2025, proses yang mirip tapi rasanya beda

Pengalaman serupa kejadian saat mengembangkan props kardus untuk launching BLESS.

Dalam waktu yang cenderung singkat, otak saya dipaksa berpikir kreatif tentang gimana membuat orang yang datang ‘ngeh‘ kalau nuansa yang ingin disampaikan ialah soal Rest Area, specifically Rest Area di Toll yang di dalamnya ada ruang istirahat, ngobrol, ngisi bensin, pijet, atau sekedar napas. Termasuk plang/rambu yang mengingatkan akan space tersebut.

Awalnya, tim produksi sulit memahami konteks dari Rest Area yang kami maksud, sampai sempat revisi beberapa kali. Sampai akhirnya, saya pakai AI untuk membantu menyusun bentuk bayangan dan komposisinya. Dan hasilnya lumayan ngegambarin isi otak jadi lebih jelas, sebelum kemudian dilempar lagi ke tim produksi.

Namun ketika sudah bicara soal ukuran nyata, bahan, dan konteks acara, banyak keputusan baru yang datang dari diskusi bersama tim dan juga insting.

Apakah orang bakal berhenti lihat props ini, atau cuma lewat? Apakah pesannya kebaca tanpa perlu dijelasin panjang lebar? Apakah suasananya selaras sama nilai yang mau dibawa BLESS?

Terkadang jawabannya muncul cepat, kadang juga muncul setelah bengong agak lama sambil ngopi, wkwk

Ada jarak yang cukup kerasa antara visual digital dan versi lapangan.

Visual digital sering terlihat mulus, sementara di lapangan semuanya perlu disesuain. Mulai dari anggaran, waktu, tenaga, dan kondisi ruang pun turut andil dalam penyesuaian.

Di titik ini saya belajar memilih mana yang penting, dan mana yang bisa dikendurin sedikit. Daripada ngejar visual sempurna, saya mending fokus ke pengalaman yang kerasa jujur dan relevan buat orang yang datang.

Seringnya sih hasil akhirnya malah terlihat lebih hangat yaa dari bayangan awal :))))


Tentang AI, manusia, dan kerja bareng yang sehat

Makin ke sini, saya melihat teknologi seperti AI akan terus hadir di proses kreatif. Tinggal bagaimana cara kita memakainya. Buat saya, AI enak dipakai buat membuka kemungkinan, mempercepat eksplorasi, dan bantu ngobrol lintas tim.

Sementara arah, rasa, perspektif, dan makna tetap saya pegang sebagai manusia. Kepekaan terhadap ruang, tubuh, emosi, dan konteks personal rasanya masih sulit ditiru mesin.

Dan di situlah karakter tiap orang tetap punya tempat.

Kalau perannya seimbang, kolaborasinya terasa menyenangkan, dan bukan bikin kerjaan makin ruwet.

Menurut saya cerita-cerita proses seperti ini rasanya layak dicatat. Biar ingat kalau sebuah karya itu jarang lahir dari satu kali jadi.

Selalu ada fase ragu, coba-coba, gagal dikit, lalu nemuin ide baru lagi: Proses Iterasi.

Dan yaaa~ ini masih awal. PR saya berikutnya adalah merawat semua proses dan kolaborasi ini, sambil tetap belajar pakai alat-alat baru tanpa kehilangan rasa/emosi dan perspektif saya selama hidup 26 tahun. Bisa jadi besok metodenya berubah lagi.

Kita lihat saja nanti, hehe.