Bekerja di Tim Kecil, dan Konsekuensi yang Ikut Tumbuh

Menarik bagi saya untuk menceritakan tentang suasana tertentu ketika bekerja di tim yang jumlahnya sepuluh sampai belasan orang saja. Ruang kerja terasa akrab, obrolan sangat cepat berpindah dari hal teknis ke urusan personal, dan keputusan sering lahir dari percakapan singkat yang berlangsung di sela-sela pekerjaan. Hampir tidak ada jarak antara peran, gagasan, dan manusia yang menjalankannya.

Pengalaman itu saya temui sejak bekerja di Hutan Itu Indonesia (HII), lalu berlanjut di BLESS Indonesia Foundation. Dua organisasi dengan skala tim yang relatif kecil, namun ritme dan tuntutannya tumbuh cepat. Dari situ, saya mulai memahami bahwa tim kecil membawa sesuatu yang lebih dari sekadar kecepatan dan kedekatan. Terdapat konsekuensi yang ikut tumbuh, seiring organisasi dan manusianya bergerak bersama.


Masuk dengan Peran Jelas, Bertumbuh Bersama Kebutuhan

Saat pertama masuk di HII, peran saya cukup jelas, multimedia designer. Fokusnya produksi konten, visual, video, dan berbagai format lain. Seiring waktu, kebutuhan organisasi berkembang. Sebuah konten saat itu tidak lagi berdiri sendiri, ia perlu arah, narasi, dan konsistensi.

Perubahan peran ini tidak sepenuhnya terjadi secara samar. Ada momen resmi ketika saya masuk ke tim fundraising, dan sejak itu peran saya bergeser lebih jelas ke ranah kreatif, komunikasi pemasaran, hingga komunikasi digital. Pergeseran ini menandai adanya pergerakan fase di saya, dari eksekusi visual ke peran yang sedikit lebih strategis dalam membentuk pesan, memberikan ide sampai arah komunikasi bersama dengan rekan kerja di tim tersebut.

Di tim kecil, pergeseran semacam ini terasa wajar. Banyak peran saling tumpang tindih, dan orang-orang di dalamnya cukup berani menyadari kenyataan tersebut. Di HII, kesadaran itu muncul sekitar satu tahun berjalan. Kami mulai melihat siapa mengerjakan apa, sejauh mana kapasitas masing-masing, apa yang bisa kita sama-sama saling bantu, serta kapan harus saling mengingatkan agar tenaga tidak terkuras berlebihan.


Kedekatan yang Menguatkan, Sekaligus Menguras

Salah satu hal yang saya rasakan sebagai kekuatan tim kecil adalah empati.

Tidak ada jarak emosional yang terlalu jauh. Ketika satu orang kewalahan, yang lain cenderung peka dan bergerak membantu.

Saya mengalami sendiri momen ketika sedang relatif lowong, lalu mengambil pekerjaan tambahan yang berada di luar peran awal. Waktu itu, perasaan yang muncul justru menyenangkan. Saya merasa saling mendukung, ditambah apresiasi yang tulus dari rekan-rekan. Kerja terasa sebagai ruang kebersamaan, bukan sekadar daftar tugas atau jobdesk aja.

Namun, kedekatan ini juga membawa dinamika lain.


Belajar Menjaga Batas, Terutama dengan Waktu

Bagi saya pribadi, tantangan terbesarnya terletak pada waktu.

Banyak pekerjaan selaras dengan minat dan ketertarikan personal. Akibatnya, batas antara kerja dan kesukaan menjadi samar. Banyak momen saat-saat ketika saya lupa membedakan mana yang dikerjakan demi tanggung jawab profesional, dan mana yang saya lakukan karena menikmati prosesnya.

Di tim kecil, jarang ada sistem yang memberi peringatan dini. Kesadaran sering harus dibangun secara personal, lalu dibicarakan bersama. Mengambil jeda dan meninjau ulang prioritas menjadi keterampilan yang terus saya latih, terutama ketika ritme kerja cepat dan kebutuhan datang bersamaan.


Ketika Peran Bertambah, Cara Memimpin Ikut Berubah

Pengalaman saya di BLESS membawa lapisan baru, yakni peran kepemimpinan. Kini saya memiliki bawahan. Di titik ini, dinamika tim kecil terasa semakin nyata. Ekspektasi perlu diselaraskan, produktivitas perlu dijaga, dan kesehatan mental tim tidak bisa diabaikan.

Momen reflektif saya muncul ketika menyadari bahwa saya sempat memandang deliverables tim sebagai cerminan langsung dari diri saya. Target terasa sangat personal. Standar kerja yang terbentuk dari kebiasaan bekerja mandiri saya bawa ke seluruh tim. Seiring waktu, saya belajar menyesuaikan skala ekspektasi, bukan untuk menurunkan kualitas, tetapi untuk memberi ruang tumbuh dan belajar bagi orang lain.

Ketegangan tetap muncul sesekali. Di tim kecil, emosi jarang tersembunyi lama. Untungnya, ruang komunikasi terbuka membuat hal-hal tersebut bisa dibicarakan, meski tidak selalu mudah.


Selain kerja penuh waktu, saya juga menjalani peran magang, paruh waktu, maupun consultant-based di WWF Indonesia, UNDP Indonesia, Food for Hungry, dan Rainforest Alliance. Dalam konteks ini, peran saya lebih banyak berfokus pada koordinasi dengan atasan dan memastikan deliverables berjalan sesuai arah program. Pengalaman ini memberi perspektif berbeda, yakni bekerja dengan struktur yang lebih mapan dan tetap membutuhkan kejelasan komunikasi serta tanggung jawab personal.


Bekerja di organisasi kecil sering dianggap cocok untuk semua orang yang ingin bergerak cepat dan belajar banyak.

Dari pengalaman saya, kecocokan sering kali soal fase hidup dan kebutuhan masing-masing. Ada orang yang berkembang di ruang kerja yang cair dan dekat. Ada juga yang lebih nyaman dengan batas peran yang jelas. Keduanya sama-sama sah.

Saya masih bekerja di tim kecil hingga hari ini dan saya sangat senang menjalaninya. Sampai saat ini saya masih banyak belajar menegosiasikan peran, waktu, dan ekspektasi. Satu hal terasa jelas menurut saya ialah, memilih bekerja di organisasi kecil berarti menerima paket utuhnya, soal kedekatan, kepercayaan, serta tanggung jawab yang tumbuh bersama.