Rasa Gemas dan Keinginan Ngerawat Sesuatu

Waktu pertama kali pindah kantor, ada satu taman di sudut kantor yang hampir setiap Senin saya lewati. Awalnya yaaaa lewat aja gitu. Sampai di satu titik rasa-rasanya saya mulai memperhatikan detail yang sama, berulang kali. Tanamannya tumbuh seadanya, susunannya rada acak, dan keseluruhan suasananya terasa kyk nanggung. Padahal ruangnya punya potensi besar kalau disentuh dengan niat yang bener.

Dari situ rasa gemas saya mulai muncul. Saya suka gemas akan sesuatu yang aneh. Dulunya saya mengkalim bahwa saya seorang yang perfeksionis, sering banget dorongan seperti rasa gemas muncul dari keinginan semuanya harus rapi, tepat, dan sesuai standar pribadi. Tapi makin ke sini sifatnya saya rasa udah berkurang, hehe. Gemas yang kali ini bikin mikir. Harusnya sudut semacam ini bisa jadi tempat yang lebih menyenangkan buat dilewati setiap hari. Saya mulai ngerasa taman ini seperti punya dimensi sendiri, haha, padahal kantor adalah tempat banyak energi manusia keluar-masuk hampir setiap hari.

Menurut saya, ruang kerja juga pantas dirawat sebagai ruang hidup. 🍃


Mencari orang yang mau dengerin niat ini.

Setelah rasa gemas itu muncul saya langsung aja kengidean langsung cari vendor sendiri. Saat foto-foto tamannya, ada rekan kerja yang tanya, “Lo ngapain foto-fotoin taman, Gas?”. Saya jawab, “Mau nyoba tanya-tanya aja ke partner, kalau mau rapihin taman ini, berapa sih harganya? hehe”. So far, orang kantor terutama manajemen aman-aman aja, bahkan ngedukung dengan banyak kasih ide.

Prosesnya tergolong singkat, yang bikin lama karena sempat dighosting sama salah satu vendor. Sampai akhirnya ketemu satu vendor yang bikin saya ngerasa, “oke, orang ini paham maksud gue!”. Saya cerita soal keinginan mengisi taman dengan tanaman yang biasa hidup di hutan hujan, tanaman yang tumbuh di bawah naungan, akrab sama kelembapan kantor, nyaman dilihat saat hujan, dan terbiasa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berubah-ubah.

“Tanaman yang terbiasa beradaptasi, mengajarkan cara tumbuh tanpa harus menuntut banyak.”


Ketika taman mulai terasa beda

Proses penanaman berlangsung sekitar dua hari, lengkap dengan sistem penyiraman otomatis di bagian vertikal, jadi tanamannya bisa lebih mudah dirawat. Setelah selesai, susunannya lebih tertata, warnanya lebih enak dilihat, dan rasanya beda waktu dilewati. Ada perubahan yang kerasa, walau bentuknya sederhana.


Tanaman, manusia, dan jeda di hari kerja

Saya lalu kepikiran bikin satu pertanyaan sederhana dan saya taruh di dekat taman yang ditujukan untuk orang kantor, atau siapun yang merasa taman ini kerasa “beda”.

Tanaman apa yang paling menggambarkan dirimu?

Orang-orang kantor mostly responsnya lumayan lucu dan excited. Ada yang berhenti sebentar cuma buat scan, isi, dan baca. Ada yang langsung nyeletuk, “eh ini kayaknya lumayan relate sama gue, yaa boleh lah.” Ada yang ngerasa mirip pakis yang tumbuh konsisten dan setia. Ada juga yang ngerasa dekat sama monstera yang daunnya berlubang.

Harapannya, setelah orang kantor tahu kemiripan mereka dengan salah satu tanaman dari sisi pertumbuhannya, penampilannya atau cara mereka bermanfaat untuk sekitar, mereka punya sense of connected atau ownership sama tanaman tersebut. Bisa aja setiap lewat, tanamannya disapa dan diajak ngobrol lebih jauh, hehe.

“Ngajak ngobrol tanaman memungkinkan orang untuk berhenti sebentar dan menyadari bahwa kita adalah bagian dari mereka, nature”

Sekarang setiap kali saya situ, saya ngerasa sudut ini mulai punya cerita sendiri. Tanaman-tanaman dari hutan hujan itu tumbuh dengan caranya masing-masing, dan entah kenapa ngingetin kalau tumbuh itu proses yang panjang, kadang sepi, tapi tetap tumbuh. Dan ya, ini masih awal. PR saya sekarang adalah merawat tanaman-tanaman ini bareng orang-orang kantor, saling ngingetin, saling nyiram, saling jaga, hehe. Semoga tamannya awet, manusianya juga, wkwk.