
Tanggal 17–18 Januari 2026 kemarin, saya ikut Temu Bumi di Sukabumi. Sebuah ajakan sederhana tentang bagaimana kita berbarengan kembali ke alam, mengambil jeda, menghirup udara segar di pinggir lembah dekat Gunung Pangrango. Jauh dari kebisingan, layar, dan ritme harian yang sering bikin napas sesak.
Awalnya, niat saya ke sana cukup rasional. Saya datang untuk mengamati beberapa acara serupa, mencatat pendekatannya, dan melihat bagaimana ruang-ruang reflektif seperti ini dibangun. Semua itu relevan dengan kerjaan saya yang bergerak di ranah inner-resilient leadership. Saya pikir, saya akan duduk agak di pinggir, mengamati, lalu pulang membawa banyak catatan.
Awalnya saya datang untuk mengamati, namun perlahan saya diminta untuk ikut berhenti sebentar.
Ritmenya perlahan menggeser posisi saya. Dari pada terus tinggal di kepala, tubuh saya seperti diajak turun ke tanah. Saya mengiyakan ajakan itu. Duduk. Diam. Menghirup. Makanya, baru kerasa bahwa perjalanan ini ternyata menyimpan satu permintaan lain, yakni istirahat. Semesta seperti menyelipkan jeda di awal tahun ini, dan saya akhirnya mengiyakan, hehe.
Sesi Grounding dan Tangis yang Datang Tanpa Aba-Aba
Di salah satu sesi grounding, kami diminta menyentuh pohon. Intensinya sederhana, kami diminta untuk merasakan dan menghubungkan diri.
Nah, di situ kejadian yang bikin saya sendiri agak kaget. Begitu tangan menyentuh batang pohon, dada langsung sesak. Air mata keluar sedikit demi sedikit begitu saja. Refleks saya malah minta maaf. Minta maaf ke pohon itu dengan mewakili manusia, atas cara kita yang sering memperlakukan mereka dengan sembrono. Rasionalitas saya soal catat mencatat langsung kabur begitu saja, saya semakin gabti mode menjadi “Perasa”.
Tangis itu datang tanpa drama, lebih seperti pengakuan bahwa ada hubungan yang lama sekali terabaikan.

Tubuh, Energi, dan Ingatan yang Lebih Tua dari Pikiran
Setelah sesi itu, saya banyak mikir.
Kenapa ya respons tubuh saya sedalam itu?
Beberapa konsep seperti biophilia menjelaskan bahwa manusia memang punya kecenderungan alami untuk terkoneksi dengan alam. Ternyata ini bukan soal suka pemandangan hijau semata aja, melainkan dorongan bawaan yang sudah lama hidup di tubuh kita.
Manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk merasa terhubung dengan alam. Seperti sebuah dorongan biologis yang hidup lebih lama dari cara hidup modern kita saat ini.


Oleh karena itu, ketika berada dekat pohon, hutan, atau tanah, tubuh sering merasa “pulang”.
Praktik forest bathing dari Jepang juga menunjukkan hal serupa. Berada di sekitar pohon membantu menurunkan hormon stres, menenangkan sistem saraf, dan memperbaiki suasana hati. Pohon melepaskan fitonutrien yang kita hirup bersama udara.
Ketika kita menghirup udara di hutan, tubuh sebenarnya sedang berinteraksi dengan senyawa alami yang dilepaskan pohon.
Sedangkan dalam banyak tradisi lama, pohon dipercaya sebagai penyimpan energi bumi. Akar yang menancap dalam, batang yang tegak, dan daun yang menangkap cahaya menciptakan keseimbangan yang terasa akrab bagi tubuh manusia.
Kita Ini Alam yang Sedang Belajar Mengingat
Yang bikin saya termenung adalah satu kesadaran sederhana bahwa kita sering merasa sedang mendatangi alam, padahal kita bagian darinya.
Tubuh kita air, mineral, dan karbon. Napas kita bertukar dengan daun. Makanan kita lahir dari tanah. Namun keseharian membuat relasi ini terasa jauh, seolah alam cuma latar dan manusia pemeran utamanya. Makanya, ketika tangan menyentuh pohon kemarin, rasanya seperti mengingat sesuatu yang lama sekali tertimbun oleh rutinitas.
Kita sering merasa sedang mendatangi alam, padahal kita bagian darinya.
Kesadaran itu datangnya pelan, dan tanpa perlu penjelasan panjang. Cukup lewat tubuh yang merespons lebih dulu.


Closingan
Saya menulis ini sebagai catatan atas pengalaman yang saya alami. Ada sesuatu yang terasa penting untuk disimpan meskipun datangnya sangat sederhana bagi saya. Pengalaman ini saya biarkan apa adanya, tanpa perlu dibesar-besarkan maupun diarahkan ke mana-mana.
Tubuh sering tahu lebih dulu dibanding pikiran kita, tinggal kita mau mendengarkannya atau tidak.
Dan di tengah hidup yang makin cepat, momen-momen seperti ini terasa layak dirawat. Ada jeda yang membantu kita mengingat kembali. Siapa tahu, yang sedang kita cari selama ini sudah berdiri diam di depan kita, punya akar yang kuat, sambil menunggu disapa.