jeda

Learning to Embrace the Unknown in an Uncertain World

Kita Hidup di Dunia yang Bergerak Terlalu Cepat

Beberapa bulan terakhir rasanya dunia makin susah ditebak. Tiba-tiba rupiah melemah sampai menyentuh kisaran Rp17.400 per dolar AS pada awal Mei 2026. Bloomberg Technoz mencatat rupiah sempat berada di level Rp17.420 per dolar AS pada 5 Mei 2026, salah satu titik terlemah sepanjang sejarah perdagangan rupiah modern. Di saat yang hampir bersamaan, ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas. Iran sempat mengancam menutup Selat Hormuz setelah eskalasi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel meningkat. Padahal sekitar 20 persen distribusi minyak dunia melewati jalur tersebut menurut U.S (Energy Information Administration, 2024). Efek dominonya langsung terasa ke harga energi, inflasi, pasar finansial, sampe rasa aman banyak orang di kehidupan sehari-hari.

Yang bikin menarik, di tengah kondisi seperti itu sebagian besar dari kita tetap menjalani hidup seolah semuanya masih bisa diprediksi, wkwk. Pagi masih bisa meeting, siangnya revisi deck, sore ngejar deadline, malam doomscrolling sambil ngarep minggu depan sedikit lebih tenang.

Jujur aje, uncertainty sekarang kayaknya udah berubah jadi atmosfer hidup sehari-hari. Saya sendiri sering dikit-dikit “hahh”, “whatt?!”, “bjir”, “astaghfirullah..”, “fiuuuh”, wkwk.

Dan somehow, kita, manusia tetap diminta untuk bisa stabil, produktif, hadir terus tanpa absen, bahkan karena keadaan terpaksa harus tetap merasa optimis.

“Kadang yang paling melelahkan dari dunia hari ini ialah perasaan harus selalu siap menghadapi semuanya.”

Sebagai bagian dari tim program di BLESS Indonesia, saya mulai merasa bahwa situasi seperti ini penting bgt sih untuk dibahas, terutama dari sisi yang sering kelewat, yakni soal rest. Selama ini rest sering dipahami sebagai jeda setelah lelah, padahal menurut saya rest jauh lebih dalam daripada itu.

Rest adalah kemampuan tubuh dan pikiran untuk kembali punya ruang bernapas di tengah dunia yang terus bergerak. Di titik tertentu, manusia pastinya gak cuma capek secara fisik aja. Banyak yang sebenarnya lelah karena terlalu lama berada dalam mode siaga.


Otak Manusia Memang Suka Kepastian

Kalau dipikir-pikir, wajar kalau manusia gampang cemas saat banyak hal terasa gak pasti. Otak kita memang dirancang untuk mencari pola dan prediksi.

Dalam neuroscience, konsep predictive processing menjelaskan bahwa otak terus mencoba memperkirakan apa yang akan terjadi supaya tubuh bisa menghemat energi dan mengurangi ancaman. Karl Friston, neuroscientist dari University College London lewat teorinya “Free Energy Principle” tahun 2010 menjelaskan bahwa otak bekerja seperti prediction machine yang terus berusaha meminimalkan uncertainty.

Mangkanya gak heran, kalau ketika situasi terlalu terbuka atau samar, tubuh langsung bereaksi. Saya pun sering merasakan hal ini. Kita jadi pengen semua rundown jelas, pengen tau langkah berikutnya apa, pengen mastiin semuanya aman. Saya melihat pola itu juga muncul ketika kami mulai merancang retreat BLESS kemarin.

Konsep retreat ini sejak awal memang cukup berbeda. Kami memang pengennya bikin ruang yang agak pelan, reflektif, dan memberi kesempatan peserta untuk berhenti sejenak dari ritme yang terlalu cepat. Di saat yang sama, salah satu pendekatan yang kami pegang adalah embracing the unknown, jadi rundown sengaja dibuat agak longgar, beberapa aktivitas dibiarkan terbuka (free time), dan peserta gak selalu tahu habis ini bakal ada sesi apa.

Fyi, pendekatan embracing the unknown sebenarnya banyak saya pelajari saat mengikuti Global Leadership Academy (GLA) bersama AVPN di Bangkok [click] beberapa waktu lalu.

Jujyuuurrr, awalnya ada sedikit rasa cemas, hehe. Takut peserta jadi anxious karena ruangnya terasa terlalu abstrak, dan peserta malah sulit rest karena gak tahu apa yang akan terjadi.

Beberapa facilitator di acara yang serupa, seringkali punya kecenderungan over-explain. Saya pun beberapa kali hampir jatuh ke situ. Rasanya pengen memastikan para peserta ngerti semuanya, ngasih instruksi sebanyak mungkin, dan mastiin gak ada awkward silence.

Padahal setelah dijalani.. saya makin tersadar bahwa terlalu banyak penjelasan kadang justru membuat orang tetap berada di mode berpikir terus-menerus.

Tubuhnya hadir penuh di ruangan, tapi pikirannya masih bekerja kemana-mana. Tubuh di tempat retreat, otak di jabodetabek, wkwk.

Manusia gak selalu butuh semua hal jadi jelas.
Yang penting mereka masih merasa aman.

Rest Tetap Membutuhkan Anchor

Selama retreat berlangsung, kami menjaga beberapa hal dasar supaya tubuh peserta tetap merasa aman.

Mereka mungkin gak selalu tahu detail aktivitas berikutnya, tapi mereka tahu makanan tersedia tepat waktu, tempat tidurnya nyaman aman tentram, ritmenya pelan (walaupun saya sadar ada beberapa yg agak diburu-buru karena ngejar waktu), dan tim facilitatornya juga pandai menjaga ruang.

Mereka juga tahu bahwa mereka boleh diam, keluar masuk ruang, dan mengambil waktu sendiri tanpa pressure untuk selalu aktif.

Dan somehow… it works, yeay!

Hari pertama retreat saya melihat banyak peserta yang masih terasa cukup tegang. Beberapa datang dengan energi yang masih sibuk. Sebagian, ada yang gak bisa ninggalin laptop, ada juga yang keliatan pikirannya tertinggal di pekerjaan.

Menurut laporan World Health Organization tahun 2019, burnout masuk ke klasifikasi occupational phenomenon akibat stres kronis yang gagal dikelola dengan baik. Kalau dipikir-pikir, jadi gak heran tuh banyak orang datang ke ruang kayak retreat sambil membawa tubuh yang sebenarnya sudah capek duluan.

Yang menarik justru mulai muncul di hari kedua. Saya melihat ritme ruang perlahan agak berubah. Percakapan sudah mulai lebih cair, orang-orang mulai duduk datang ke sesi tanpa buru-buru, dan energi yang awalnya terasa tegang, di hari ini rasanya mulai melunak.

Saya melihat ada peserta yang bilang ternyata mereka baru sadar sudah lama sekali gak benar-benar istirahat.

Terdapat juga peserta yang akhirnya tidur siang tanpa rasa bersalah. Sampai ada yang mulai membuka cerita tentang hidupnya, yang biasanya ngomongin pekerjaan. Saya merasakan hal-hal ini terutama saat peserta ngobrol di luar sesi, seperti saat makan, maupun ikut aktivitas bersama.

Kemudian, connection antar peserta juga tumbuh secara natural, bukan lewat networking yang dipaksa atau sesi ice breaking berlebihan. Saat ritmenya diajak lebih pelan, kemungkinan besar orang mulai merasa cukup aman untuk hadir di ruangan sebagai dirinya sendiri.

Menurut saya, banyak ruang perubahan hari ini terasa melelahkan karena semuanya bergerak terlalu cepat. 

Semua orang ingin memperbaiki dunia tapi tubuhnya sendiri belum sempat bernapas.

Belajar dan Mengamati sebagai Fasilitator

Buat saya pribadi, retreat ini juga jadi ruang belajar yang besar sebagai facilitator.

Salah satu hal paling challenging bagi saya ternyata adalah belajar diam. Facilitator sering merasa harus selalu mengisi ruang, selalu membantu, dan memastikan semuanya berjalan “baik”. Padahal beberapa momen paling hangat selama retreat justru muncul ketika ruangnya cukup tenang dan aman.

Sejauh pengamatan saya, percakapan yang jujur dan terbuka banyak keluar saat minum teh/kopi di sore hari, refleksi pribadi pun banyak muncul saat jalan-jalan santai, sampai ada orang yang akhirnya bisa menangis setelah lama menahan banyak hal.

Menariknya, kebanyakan percapakan-percakapan itu muncul saat tidak dipandu terlalu kaku di sesi, melainkan karena ritmenya cukup aman untuk membuat tubuhnya perlahan melepas pertahanannya, asek.

Silence kadang terasa awkward karena kita terlalu terbiasa hidup dalam kebisingan.

Saya jadi mulai melihat rest dengan cara yang berbeda.

Rest ternyata punya hubungan erat dengan clarity. Penelitian dari Stanford University tahun 2021 menunjukkan bahwa intentional rest dan recovery membantu meningkatkan emotional regulation, kreativitas, dan kualitas pengambilan keputusan. Senada dengan penelitian Alex Soojung-Kim Pang lewat bukunya Rest: Why You Get More Done When You Work Less tahun 2016, manusia justru lebih mampu berpikir jernih ketika punya ruang recovery yang cukup.

Makanya menurut saya, rest sebenarnya bagian dari productivity juga. Bedanya, hasilnya gak selalu langsung terlihat dalam bentuk output cepat atau checklist yang selesai semua.

Terkadang memang hasilnya berupa tubuh yang lebih tenang, pikiran yang lebih jernih, atau keberanian sederhana untuk akhirnya bilang,

“kayaknya saya capek deh, saya butuh rest.”

Embracing the Unknown Ternyata Bukan Tentang Jadi Fearless

Setelah retreat selesai, saya merasa konsep embracing the unknown akhirnya terasa jauh lebih manusia daripada yang saya bayangkan sebelumnya.

Selama ini banyak orang membayangkan embracing the unknown sebagai keberanian besar menghadapi ketidakpastian.

Buat saya pribadi, hal ini lebih tentang kemampuan untuk tetap hadir walau belum tahu semuanya dan yakin bisa “bernapas” walau hidup belum sepenuhnya jelas.

Dan saya rasa itu practice.

Latihan kecil sehari-hari untuk gak buru-buru menemukan jawaban, gak terus-menerus mengontrol semuanya, dan juga percaya bahwa kadang manusia memang perlu berhenti sebentar sebelum melanjutkan langkah berikutnya.

Di dunia yang terus bergerak cepat, mungkin bentuk keberanian yang paling sederhana adalah memberi diri sendiri izin untuk perlahan melambat.

Jujyurly, after retreat selesai, saya merasa LEGAA (& proud!)~

Alih-alih lega karena acaranya berjalan lancar, saya lebih merasa lega karena ruangnya benar-benar terasa hidup.

Kalau melihat dari mood jar dan post-form, di akhir retreat, energi peserta berubah cukup signifikan dibanding awal kedatangan mereka. Kalau di awal masih terasa banyak fear, anxious, dan ketegangan, di akhir yang lebih terasa justru joy, connection, dan rasa ringan.

Beberapa peserta mulai menyadari pentingnya rest. Sebagian lain menemukan praktik-praktik kecil yang ingin mereka bawa pulang ke kehidupan sehari-hari. Dan yang paling terasa dari post-refleksi yang mereka berikan, ruang ini memberi kesempatan untuk bernapas lagi setelah sekian lama hidup dalam ritme yang terlalu cepat.

Mungkin itu yang paling saya pelajari dari retreat ini, bahwa di tengah dunia yang makin uncertainty, kita sebagai manusia mungkin sebenarnya mencari hal yang sama, yaitu ruang untuk lebih pelan, merasa aman dan keadaan dimana tidak harus punya semua jawaban sekarang juga.

Sedikit Cerita dari Global Leadership Academy di Bangkok

Tiga hari di Bangkok ternyata gak kerasa seperti program leadership pada umumnya. Awalnya saya membayangkan Global Leadership Academy (GLA) dari AVPN bakal dipenuhi presentasi, framework, dan sesi networking formal yang padat dari pagi sampai malam. Tapi ternyata suasananya jauh lebih cair daripada yang saya bayangkan.

Alih-alih dijejali materi terus-menerus, kami justru diajak mengalami berbagai bentuk percakapan dan pembelajaran yang muncul dari interaksi antarpeserta. Dan somehow, justru pendekatan kayak gitu yang bikin pengalaman ini terasa lebih membekas.

Yang paling menarik bagi saya, selama tiga hari program berjalan hampir gak ada presentasi formal dari tim AVPN sendiri, eh justru gak ada sama sekai deh. Bahkan fasilitator utamanya hanya satu orang, yakni Kurt Peleman. Selebihnya, ruang benar-benar dibentuk oleh energi kelompok, percakapan yang muncul secara natural, dan bagaimana setiap orang membawa perspektifnya masing-masing ke dalam ruangan.


Embracing the Unknown Sejak Hari Pertama

Sebelum program benar-benar dimulai, Kurt sempat bilang kalau selama beberapa hari ke depan kami akan banyak berhadapan dengan uncertainty. Katanya, sebagian proses di GLA memang sengaja dibuat agar peserta gak selalu tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Waktu itu saya masih menganggapnya sebagai semacam opening statement biasa.

Tapi ternyata, konsep itu benar-benar diterapkan sepanjang acara, wihihiw.

Sering sekali kami gak tahu habis ini bakal ada sesi apa, output akhirnya seperti apa, atau kenapa sebuah aktivitas dilakukan. Bahkan kadang transisinya terasa terlalu organik sampai saya kepikiran, “Setelah ini sebenernya lagi mau diarahin ke mana ya?”

Tbh, di awal saya cukup anxious.

Karena sebagai orang yang terbiasa bekerja dengan agenda, struktur, dan timeline yang jelas, situasi kayak gitu cukup bikin gak nyaman. Rasanya seperti terus berjalan tanpa peta dan arah yang utuh. Tapi makin lama saya mulai tersadar kalau justru itu pengalaman yang ingin diberikan oleh GLA, yaitu hidup di tengah ketidakpastian tanpa harus buru-buru mengontrol semuanya.

Kadang manusia terlalu sibuk mencari kepastian sampai lupa memberi ruang bagi kemungkinan baru untuk muncul.

Menariknya, Kurt gak langsung menjelaskan semua maksud di balik metode yang dipakai selama program berlangsung. Jadi sepanjang proses, kami benar-benar dibiarkan mengalami dulu rasa bingungnya, awkward-nya, bahkan rasa penasarannya.

Baru di akhir acara, satu per satu benang merahnya mulai dijelaskan. Dan di situ banyak peserta langsung punya reaksi yang sama:

“Ohhh… jadi maksudnya itu.”

Ada semacam rasa clarity sekaligus re-energized setelah akhirnya memahami kenapa ruangnya dibuat seperti itu sejak awal. Karena ternyata, banyak metode yang dipakai memang sengaja dirancang untuk membuat peserta mengalami uncertainty secara langsung, alih-alih hanya mendiskusikannya secara teori.

Ketika Cerita Personal Mengubah Suasana Ruangan

Salah satu sesi pertama yang paling membekas buat saya adalah Tree of Life. Salah seorang membuka sesi dengan cerita yang sangat personal tentang pengalaman cinta pertamanya di Thailand. Dari first kiss sampai rasa kehilangan, semuanya diceritakan dengan sangat manusiawi dan gak dibuat-buat. Menariknya, justru karena itu suasana ruangan langsung berubah.

Orang-orang mulai lebih terbuka, percakapan jadi terasa lebih genuine, dan defense perlahan turun. Dari situ saya makin tersadar kalau trust sering kali muncul karena ada keberanian untuk hadir sebagai manusia biasa, dibanding seseorang yang terlihat paling profesional atau paling pintar

Pengalaman itu bikin saya refleksi cukup jauh tentang banyak ruang kolaborasi yang pernah saya temui. Gak jarang ya, kita terlalu cepat masuk ke strategi, target, dan output tanpa benar-benar membangun rasa aman terlebih dahulu. Padahal, kalau manusianya belum merasa cukup nyaman untuk hadir secara utuh, percakapan yang muncul biasanya hanya berhenti di permukaan.

Banyak ruang kolaborasi gagal berkembang bukan karena kurang ide, tapi karena manusianya belum benar-benar merasa aman.

Belajar Mendengar Tanpa Sibuk Menjawab

Perasaan itu makin terasa waktu masuk ke sesi generous listening. Di sesi ini kami diajak untuk benar-benar mendengar tanpa sibuk menyiapkan jawaban. Dan ternyata itu jauh lebih susah daripada kelihatannya.

Saya baru sadar kalau selama ini sebagian besar orang mendengarkan sambil berpikir tentang apa yang akan mereka katakan berikutnya. Akibatnya, banyak percakapan rasanya kayak cepat, penuh respon, tapi sebenarnya minim kehadiran. Sementara di sesi ini, justru ada banyak jeda, silence, dan ruang kosong yang awalnya terasa agak awkward.

Tapi makin lama, silence itu justru terasa menenangkan. Orang-orang mulai berbicara lebih jujur dan reflektif. Bahkan beberapa cerita yang muncul terasa seperti sesuatu yang selama ini mereka tahan sendiri.

Saya jadi sadar kalau silence itu tanda bahwa seseorang sedang merasa cukup aman untuk benar-benar berpikir dan didengar.

Dunia hari ini terlalu cepat bereaksi. Mungkin itu kenapa banyak orang lupa rasanya benar-benar didengar.

Tentang Power, Perspektif, dan Siapa yang Punya Ruang Bicara

Refleksi tentang ruang dan perspektif itu berlanjut di sesi Deep Democracy. Kami banyak membahas tentang power dynamics dan bagaimana suara tertentu sering kali lebih dominan dibanding yang lain, bahkan di ruang yang katanya kolaboratif sekalipun.

Contohnya ketika organisasi besar, donor besar, atau pemain global secara gak sadar mengambil terlalu banyak ruang dalam percakapan, sementara suara lokal perlahan tersisih. Diskusi itu cukup mengganggu pikiran saya karena saya mulai bertanya ke diri sendiri soal apakah selama ini saya juga pernah tanpa sadar melakukan hal yang sama dalam ruang-ruang yang saya fasilitasi?

Bukan karena niat buruk, terkadang dominasi itu bisa jadi muncuk karena posisi, bahasa, atau siapa yang paling nyaman bicara lebih dulu.

Pembelajaran dari saya ialah ternyata menciptakan ruang yang benar-benar inklusif ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar memberi kesempatan bicara.

Percakapan Tentang Kelelahan Para Leaders

Hal itu juga terasa kuat di sesi Open Space Technology, di mana peserta bebas membawa topik yang mereka rasa penting. Saya mengangkat tema tentang well-being dan resilience para leaders, dan ternyata resonansinya besar banget, hehehe.

Banyak peserta cerita tentang rasa capek yang sulit dijelaskan, rasa lonely di posisi leadership, sampai tekanan untuk selalu terlihat kuat di depan tim atau organisasinya. Yang menarik, sebagian besar dari mereka sebenarnya tidak mencari solusi besar. Melainkan hanya ingin punya ruang untuk bernapas sebentar dan bicara dengan orang lain yang benar-benar paham rasanya.

Beberapa peserta cerita kalau mereka mencoba menjaga dirinya lewat hal-hal sederhana seperti yoga, dancing, olahraga, atau sekadar ngobrol dengan peer yang setara. Dan dari semua percakapan itu, ada satu hal yang paling membekas buat saya, yakni banyak founders dan leaders terlalu sibuk menjaga organisasinya sampai lupa menjaga dirinya sendiri.

Banyak orang ingin memperbaiki dunia, tapi tubuh dan pikirannya sendiri belum sempat benar-benar bernapas.

Percakapan Tentang Kelelahan Para Leaders

Semakin lama mengikuti GLA, saya makin merasa kalau program ini sebenarnya bukan tentang menjadi leader yang selalu punya jawaban. Justru sebaliknya, kami terus diajak hidup di tengah ketidakjelasan dan belajar tetap hadir di dalamnya.

Ketika bekerja dengan manusia dan berbagai kompleksitas di dalamnya, selalu ada variabel yang gak bisa kita kontrol. Dan mungkin di situlah pentingnya reflective thinking. Jauh daripada sekadar memastikan semuanya sempurna, melainkan untuk membantu kita tetap sadar, adaptif, dan terbuka terhadap perspektif baru.

Kalau saya harus merangkum satu hal paling besar dari pengalaman ini, mungkin jawabannya sederhana, yaitu leadership adalah tentang membuat ruang. Ruang untuk mendengar, berpikir perlahan, dan ruang untuk gak harus selalu terlihat kuat. Juga ruang untuk hadir sebagai manusia utuh di tengah dunia yang terus bergerak cepat.

Pulang dari Bangkok, saya jadi makin yakin kalau kerja-kerja yang sedang dibangun BLESS (tempat saya bekerja perhari ini) memang sangat dibutuhkan hari ini. Mungkin dunia sekarang gak kekurangan orang pintar. Tapi dunia mulai kekurangan ruang yang membuat manusia bisa bernapas sedikit lebih pelan.